by

Literasi di Era Pandemi Covid-19

Penulis : Wahyu Triono C.S. Beliau Merupakan Dosen Administrasi Publik FISIP Universitas Nasional dan Tutor FHISIP Universitas Terbuka

JAKARTA – Tulisan ini khusus dipersembahkan kepada semua guru pada momentum peringatan hari guru, 25 November 2021.

Siapa itu guru? Siapa saja adalah guru, sepanjang ia dapat digugu dan ditiru (diteladani). Semua orang yang mengajari kita menulis dan membaca mengetahui berbagai bidang ilmu adalah guru.

Siapa saja yang membimbing orang lain untuk lepas dari kebodohan, bisa membedakan tentang kebenaran, kejujuran dan keadilan bangkit dari kejahiliyahan menuju peradaban dan kemuliaan adalah guru.

Siapa saja yang memberi keteladanan, menginspirasi orang lain bangkit dari ketidakberdayaan, keterpurukan baik secara politik, ekonomi, sosial budaya, kemanusiaan dan yang lainnya adalah guru.

  • Mengembangkan Literasi

Kajian ini memfokuskan pada guru yang secara otoritatif membudayakan berbagai literasi untuk mengembangkan pendidikan yang oleh Rahzen (2019) disebut sebagai pendidikan mencerahkan.

Suatu pendidikan yang mempelajari dan mengembangkan tentang: Basa, yaitu mencari kebenaran dari koherensi kenyataan-kenyataan. Masa, yaitu kemampuan untuk menangkap arah atau gerak dari peristiwa. Rasa bahasa, yaitu keserasian rasa seni atau keindahan seni dan Yasa, yaitu kemampuan untuk menerima yang sakral dan yang suci.

Baca juga : Kejagung ke Yogyakarta Bahas Restorative Justice Hingga Covid-19

Literasi seperti apa yang musti dikembangkan di era Pandemi Covid-19? Merujuk pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan setidaknya ada enam literasi yang musti dikembangkan.

Pertama, literasi baca dan tulis. Suatu pengetahuan dan kecakapan untuk membaca, menulis, mencari dan menggunakan teks tertulis untuk mencapai tujuan, mengembangkan pemahaman dan potensi, serta untuk berpartisipasi di lingkungan sosial.

Dalam konteks era Pandemi Covid-19 literasi baca dan tulis juga dimaksudkan untuk mampu membaca mengantisipasi lingkungan sosial dan lingkungan pendidikan yang mulai menerapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dapat diatur sedemikian rupa agar secara ketat tetap mematuhi protokol kesehatan.

Kiranya dapat pula dimaklumi untuk sedapat mungkin menghentikan sementara waktu PTM selama menjelang liburan Natal dan Tahun Baru 2022.

Bila Indonesia yang secara signifikan telah berhasil mengendalikan Pandemi Covid-19 dan berhasil pula menghadapi gelombang penularan Pandemi pada libur natal, tahun baru dan memasuki libur Idul Fitri di 2022 diprediksi Indonesia sukses dalam menghadapi dan menangani Pandemi Covid-19.

Kedua, literasi numerasi dimaksudkan bagaimana kemampuan setiap komunitas dunia pendidikan dan masyarakat dapat menggunakan berbagai macam simbol, angka, informasi dalam bentuk tabel, grafik, bagan dan lainnya untuk mengkalkulasi dan memprediksi bagaimana strategi dan cara mengantisipasi dan menghadapi Pandemi Covid-19.

Baca juga : Gila, Duit dan Emas Pasien Covid-19 Dipaling Saat Karantina di Wisma Atlit

Ketiga, literasi sains dimaksudkan bahwa pengetahuan dan kecakapan ilmiah yang dimiliki dapat mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasarkan fakta, memahami karakteristik sains, membangun kesadaran bagaimana sains dan teknologi membentuk lingkungan alam, intelektual dan budaya, serta meningkatkan kemauan untuk terlibat dan peduli dalam isu-isu yang terkait sains termasuk untuk penanganan Pandemi Covid-19.

Keempat, literasi digital adalah suatu pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari termasuk untuk media Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan dalam menangani Pandemi Covid-19.

Kelima, literasi finansial secara umum dimaksudkan untuk memberi pengetahuan dan kecakapan dalam meningkatkan kesejahteraan finansial terutama yang disebabkan oleh dampak Pandemi Covid-19.

Keenam, literasi budaya dimaksudkan sebagai pengetahuan dan kecakapan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa, termasuk kebiasaan dan budaya baru sebagai akibat dan dampak dari Pandemi Covid-19.

  • Budaya Baru

Berbagai literasi telah kita pelajari agar kita memiliki pengetahuan dan kecakapan dalam menghadapi era Pandemi Covid-19.

Hal baru yang patut kita syukuri di era Pandemi Covid-19 ini adalah munculnya literasi dan budaya baru untuk paling tidak kita lebih peduli untuk menjaga kesehatan fisik, kesehatan mental kesehatan sosial dan kesehatan spritual kita.

Menutup mulut dengan masker dimaksudkan bukan saja untuk menjaga agar tidak tertular oleh virus Covid-19 saja, tetapi dimaksudkan juga untuk lebih berhati-hati menjaga lisan dan perkataan, tidak menyebar hasad, hasud, fitnah dan hoaks.

Baca juga : Irna Curhat ke Jokowi Tentang Covid 19 dan TOL Serang-Panimbang

Menjaga jarak dimaksudkan tidak saja agar bagaimana kita tidak tertular Covid-19 tetapi juga agar kita menjaga silaturahmi sebagai sesama warga bangsa untuk saling bergotongroyong, bekerjasama, bersinergi dan berkolaborasi agar tidak terjadi kesenjangan dan jarak sosial yang memicu disintegrasi bangsa dan perpecahan.

Mencuci tangan dimaksudkan tidak saja agar bersih dari virus Pandemi Covid-19 yang mudah menular tetapi juga dimaksudkan agar kita menjaga tangan-tangan atau kekuasaan dan otoritas yang kita punya untuk melakukan kebaikan bukan berbuat zholim, aniaya ketidakbenaran, ketidakjujuran dan ketidakadilan.

  • Penutup

Apakah kita masih memikirkan dan mengenang jasa baik para guru-guru kita dan siapa saja yang pernah mengajari dan menginspirasi kita sehingga kita mendapat pencerahan karena kita belajar tentang berbagai literasi dalam kehidupan?

Kita jadi bisa menulis dan membaca karena siapa? Kita jadi tahu beraneka bidang ilmu dari siapa?
Kita jadi pintar dibimbing pak guru.
Kita bisa pandai dibimbing bu guru.
Gurulah pelita penerang dalam gulita, jasamu tiada tara.

Terima kasih Bapak dan Ibu guru, Terima kasih Bapak dan Ibu dosen dan para maha guru baik di Kelas maupun dalam kehidupan dan para guru bangsa yang kita hormati dan muliakan. Selamat Hari Guru. (WT, 25/11/2021).

Loading

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *