{"id":232166,"date":"2025-05-22T12:01:19","date_gmt":"2025-05-22T05:01:19","guid":{"rendered":"https:\/\/teropongistana.com\/?p=232166"},"modified":"2025-05-22T12:01:19","modified_gmt":"2025-05-22T05:01:19","slug":"menag","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/teropongistana.com\/nasional\/232166\/menag\/","title":{"rendered":"Menag Nasaruddin Umar Sampaikan Gagasan Moderasi Beragama dan Ekoteologi di Georgetown University"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #008000\"><strong>Teropongistana.com<\/strong><\/span> <span style=\"color: #ff6600\"><strong>Washington DC<\/strong><\/span> &#8211; Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan visi Indonesia sebagai model dialog antaragama, perdamaian, dan keadilan sosial. Hal ini disampaikan Menag Nasaruddin dalam sebuah forum internasional di Georgetown University yang diselenggarakan oleh School of Foreign Service Institute for the Study of Diplomacy dan Alwaleed Center for Muslim-Christian Understanding, Selasa (20\/5\/2025).<\/p>\n<p>Indonesia: Laboratorium Keberagaman<\/p>\n<p>Menag menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara dengan keragaman luar biasa\u2014lebih dari 700 bahasa, 1.300 suku bangsa, enam agama resmi, dan ratusan kepercayaan lokal. Dalam konteks ini, agama tidak hanya menjadi identitas spiritual, tetapi juga elemen penting dalam menjaga kohesi sosial dan stabilitas politik.<\/p>\n<p>\u201cTidak ada kebijakan strategis di Indonesia yang diambil tanpa mempertimbangkan nilai-nilai agama,\u201d ujar Nasaruddin yang juga pernah menempuh studi post-doktoral di Georgetown University,<\/p>\n<p>Ia menegaskan bahwa kebebasan beragama dijamin konstitusi, namun harus dijalankan dengan tanggung jawab dan penghormatan terhadap hak orang lain. Ini adalah wujud moderasi beragama di Indonesia.<\/p>\n<p>Curriculum of Love: Toleransi sebagai Fondasi<\/p>\n<p>Salah satu program prioritas Kementerian Agama di bawah kepemimpinan Nasaruddin adalah Curriculum of Love, yaitu kurikulum berbasis cinta kasih yang menanamkan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan penghargaan terhadap keragaman dalam sistem pendidikan.<\/p>\n<p>\u201cKami menanamkan bahwa menjadi orang beragama berarti menjadi warga negara yang baik. Toleransi bukan berarti menyamakan semua agama, melainkan menghormati perbedaan dan membiarkan setiap orang menjalankan keyakinannya dengan bebas,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Ia juga menekankan pentingnya merawat tradisi lokal sebagai bagian dari ekspresi keberagamaan yang hidup dan dinamis.<\/p>\n<p>Kesetaraan Gender sebagai Agenda Nasional<\/p>\n<p>Dalam forum tersebut, Nasaruddin juga menggarisbawahi komitmen Indonesia dalam mendorong kesetaraan gender. Menurutnya, pendekatan berbasis agama telah berhasil membuka akses pendidikan dan partisipasi politik yang lebih luas bagi perempuan.<\/p>\n<p>\u201cDi Indonesia, tidak kurang dari 25 persen lembaga pendidikan dijalankan oleh organisasi keagamaan. Mereka menjadi garda depan dalam pemberdayaan perempuan,\u201d kata Nasaruddin. Ia menyebut gerakan perempuan di Indonesia sebagai salah satu yang paling berhasil dalam dunia Islam.<\/p>\n<p>Ekoteologi: Iman yang Ramah Lingkungan<\/p>\n<p>Menag juga memperkenalkan konsep ekoteologi, yakni pendekatan keagamaan yang menempatkan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari ibadah. Dalam pandangannya, penyebab utama krisis lingkungan global bukan hanya teknologi, melainkan cara pandang manusia terhadap dirinya dan alam semesta.<\/p>\n<p>\u201cMenanam pohon adalah ibadah ekologis. Itu bentuk nyata dari cinta kepada Tuhan dan ciptaan-Nya,\u201d ujarnya. Ia menambahkan bahwa Kementerian Agama telah menggagas gerakan penanaman pohon di lingkungan sekolah, kantor, dan rumah ibadah untuk membangun kesadaran ekologis kolektif.<\/p>\n<p>Gugun Gumilar Staf Khusus Menteri Agama yang juga hadir dalam forum tersebut juga menambahkan bahwa Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keberagaman budaya dan agama.<\/p>\n<p>\u201cSalah satu prinsip utama yang dianut bangsa ini adalah &#8220;Bhinneka Tunggal Ika&#8221; atau &#8220;berbeda-beda tetapi tetap satu&#8221;, tegas Gugun<\/p>\n<p>Gugun Gumilar juga mengatakan dalam konteks keberagaman, moderasi beragama memiliki peran penting untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Teropongistana.com Washington DC &#8211; Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan visi Indonesia sebagai model dialog antaragama,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":10,"featured_media":232167,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1026],"tags":[7085,119,6871,7084],"class_list":["post-232166","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-kang-gugun","tag-kemenag","tag-menag-ri","tag-washington-dc"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/posts\/232166","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/users\/10"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/comments?post=232166"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/posts\/232166\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/media\/232167"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/media?parent=232166"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/categories?post=232166"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/tags?post=232166"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}