{"id":239495,"date":"2026-05-13T19:40:45","date_gmt":"2026-05-13T12:40:45","guid":{"rendered":"https:\/\/teropongistana.com\/?p=239495"},"modified":"2026-05-13T19:40:45","modified_gmt":"2026-05-13T12:40:45","slug":"kebenaran-tak-bisa-dibubarkan-pekik-perlawanan-banten-di-film-pesta-babi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/teropongistana.com\/daerah\/239495\/kebenaran-tak-bisa-dibubarkan-pekik-perlawanan-banten-di-film-pesta-babi\/","title":{"rendered":"Kebenaran Tak Bisa Dibubarkan: Pekik Perlawanan Banten di Film Pesta Babi"},"content":{"rendered":"<p><strong>Teropongistana.com Serang<\/strong> \u2013 Di tengah gelombang represi terhadap pemutaran film dokumenter di berbagai daerah, Padepokan Bumi Alit Padjadjaran di Cikeusal, Serang, menjadi titik temu perlawanan intelektual dan aktivisme. Melalui agenda &#8220;Nobar dan Diskusi: Pesta Babi&#8221;, para aktivis Banten berkonsolidasi untuk menyoroti potret buram proyek strategis nasional di tanah Papua yang dinilai sebagai bentuk &#8220;kolonialisme modern&#8221;.<\/p>\n<p>Pengasuh Padepokan Bumi Alit Padjadjaran, Abah Elang Mangkubumi, melontarkan kritik terhadap arah pembangunan pemerintah yang dianggap semakin menjauh dari nilai-nilai kemanusiaan dan pelestarian ekosistem.<\/p>\n<p>Jerit di Balik Proyek Ketahanan Pangan<br \/>\nFilm dokumenter bertajuk &#8220;Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita&#8221; menjadi pemantik diskusi. Film ini memotret nestapa suku-suku asli Papua\u2014Marind, Yei, Awyu, dan Muyu\u2014yang ruang hidupnya terhimpit oleh eksploitasi lahan berskala besar.<\/p>\n<p>&#8220;Film ini bukan hiburan. Ini adalah jerit masyarakat adat Papua yang tanahnya digilas atas nama ketahanan pangan dan transisi energi,&#8221; ujar Abah Elang dalam wawancara eksklusif usai diskusi, Rabu (13\/5).<\/p>\n<p>Data yang terungkap dalam diskusi tersebut menunjukkan kekhawatiran atas rencana konversi 2,5 juta hektar hutan Papua menjadi perkebunan sawit dan tebu. Abah Elang mempertanyakan fundamental dari proyek tersebut: &#8220;Pembangunan ini sebenarnya untuk siapa?&#8221;<\/p>\n<p>Empat Poin Gugatan untuk Penguasa<br \/>\nDalam pernyataannya, Abah Elang menyampaikan empat poin krusial yang ditujukan langsung kepada Presiden dan jajaran kabinetnya:<\/p>\n<p>\u2022 Paru-Paru Dunia Bukan Aset Dagang: Hutan Papua bukan sekadar komoditas. Merusaknya berarti mengundang bencana iklim global yang dampaknya akan dirasakan hingga anak cucu di masa depan.<\/p>\n<p>\u2022 Masyarakat Adat adalah Penjaga, Bukan Penghambat: Masyarakat adat telah menjaga ekosistem ribuan tahun sebelum Republik ini berdiri. Menstempel mereka sebagai penghambat pembangunan adalah kekeliruan sejarah yang fatal.<\/p>\n<p>\u2022 Pembangunan vs Perampasan: Tanah adat memiliki nyawa dan identitas. Mengambilnya tanpa restu masyarakat lokal bukan lagi disebut pembangunan, melainkan perampasan hak hidup.<\/p>\n<p>\u2022 Kebenaran yang Tak Bisa Dibubarkan: Menanggapi maraknya pembubaran acara serupa di Ternate hingga Mataram, Abah Elang menegaskan bahwa represi justru memvalidasi kebenaran isi film tersebut. &#8220;Kalian bisa membubarkan nobar, tapi tidak bisa membubarkan kebenaran,&#8221; tegasnya.<\/p>\n<p>Pesan Moral untuk Pemimpin<br \/>\nMenutup pernyataannya dengan nada yang dalam dan filosofis, tokoh kharismatik Banten ini mengingatkan bahwa kedaulatan sebuah negara diukur dari caranya memperlakukan alam.<\/p>\n<p>&#8220;Jaga tanah ini bukan karena tekanan dunia, tapi karena tanah ini adalah ibu kita. Seorang pemimpin yang baik tidak akan pernah menjual ibunya,&#8221; pungkas Abah Elang.<\/p>\n<p>Konsolidasi aktivis di Banten ini diprediksi akan terus berlanjut sebagai bagian dari solidaritas nasional menolak perampasan ruang hidup masyarakat adat di seluruh penjuru nusantara.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Teropongistana.com Serang \u2013 Di tengah gelombang represi terhadap pemutaran film dokumenter di berbagai daerah, Padepokan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":10,"featured_media":239496,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3411],"tags":[5991,8997],"class_list":["post-239495","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-daerah","tag-nobar","tag-pesta-babi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/posts\/239495","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/users\/10"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/comments?post=239495"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/posts\/239495\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":239497,"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/posts\/239495\/revisions\/239497"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/media\/239496"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/media?parent=239495"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/categories?post=239495"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/tags?post=239495"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}