{"id":240457,"date":"2026-06-16T23:38:05","date_gmt":"2026-06-16T16:38:05","guid":{"rendered":"https:\/\/teropongistana.com\/?p=240457"},"modified":"2026-06-16T23:38:05","modified_gmt":"2026-06-16T16:38:05","slug":"ketika-orang-malind-diajari-ketahanan-pangan-oleh-mereka-yang-baru-menemukannya-di-ruang-rapat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/teropongistana.com\/nasional\/240457\/ketika-orang-malind-diajari-ketahanan-pangan-oleh-mereka-yang-baru-menemukannya-di-ruang-rapat\/","title":{"rendered":"Ketika Orang Malind Diajari Ketahanan Pangan oleh Mereka yang Baru Menemukannya di Ruang Rapat"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p>teropongistana.com &#8211; Di negeri ini, hampir semua hal akan terlihat lebih meyakinkan jika diberi singkatan. Ada PSN, RPJMN, KPBU, Otsus, AMDAL, dan entah berapa banyak lagi huruf-huruf kapital yang lahir dari ruang rapat, kemudian berkelana ke daerah-daerah membawa misi pembangunan.<\/p>\n<p>Kali ini yang datang ke Merauke bernama Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan salah satu semangat besarnya: ketahanan pangan. Sebuah gagasan yang mulia. Sebab bangsa yang besar memang tidak boleh bergantung pada perut bangsa lain. Namun di tengah gegap gempita itu, ada satu ironi kecil yang menarik untuk direnungkan. Ketahanan pangan diperkenalkan kepada masyarakat Malind seolah-olah ia adalah penemuan baru.<\/p>\n<p>Padahal jauh sebelum republik ini memiliki kementerian, badan perencanaan, konsultan pembangunan, atau tim ahli yang mampu membuat grafik berwarna-warni, orang Malind sudah mengenal konsep itu dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menyebutnya Wambad. Tidak ada seminar nasional tentang Wambad. Tidak ada hotel berbintang yang menjadi tempat peluncurannya. Tidak ada sertifikat peserta.<br \/>\nTidak ada foto bersama dengan latar belakang spanduk berukuran raksasa. Tetapi anehnya, konsep itu berhasil bertahan ratusan tahun.<\/p>\n<p>Wambad adalah kewajiban seorang laki-laki Malind untuk berkebun. Bukan karena ada target kinerja. Bukan karena ada indikator keberhasilan. Tetapi karena hidup harus dijalani dengan tanggung jawab. Seorang laki-laki Malind yang tidak berkebun akan lebih cepat menjadi bahan pembicaraan masyarakat dibandingkan pejabat yang lupa janji kampanye.<\/p>\n<p>Sebab dalam budaya Malind, bekerja bukan pilihan gaya hidup. Bekerja adalah kehormatan. Maka sejak remaja mereka diajarkan membuka kebun, menanam sagu, ubi, keladi, pisang, tebu, dan berbagai sumber pangan lainnya. Hasilnya kemudian dikumpulkan menjadi Mbulalo.<\/p>\n<p>Bagi masyarakat Malind, Mbulalo bukan sekadar tumpukan hasil panen. Ia adalah simbol bahwa sebuah keluarga mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Bahwa ketika ada pesta adat, perkawinan, kelahiran, atau peristiwa penting lainnya, keluarga tersebut mampu memberi makan banyak orang.<\/p>\n<p>Karena dalam budaya Malind, kemakmuran tidak diukur dari berapa banyak pidato yang disampaikan, tetapi dari berapa banyak orang yang bisa makan bersama.<br \/>\nDan di sinilah satir pembangunan mulai terasa.<\/p>\n<p>Hari ini negara datang membawa misi ketahanan pangan. Sementara masyarakat Malind sejak lama hidup dengan filosofi ketahanan pangan. Negara berbicara tentang produksi. Orang Malind berbicara tentang keberlanjutan hidup. Negara menghitung hektare. Orang Malind menghitung generasi. Negara membuat peta investasi. Orang Malind membaca peta leluhur.<\/p>\n<p>Keduanya sebenarnya tidak sedang berlawanan. Masalah muncul ketika salah satunya merasa tidak perlu mendengarkan yang lain.<\/p>\n<p>Sering kali pembangunan datang dengan keyakinan bahwa masyarakat adat harus memahami program pemerintah. Padahal mungkin sesekali pemerintah juga perlu memahami masyarakat adat. Karena bisa jadi masyarakat adat bukan kekurangan pengetahuan tentang tanah. Justru merekalah yang selama ini hidup bersama tanah itu.<\/p>\n<p>Mereka tahu kapan rawa meluap. Mereka tahu tanah mana yang subur. Mereka tahu wilayah yang dianggap sakral. Mereka tahu tempat berburu, tempat mencari ikan, dan tempat yang tidak boleh diganggu. Pengetahuan yang tidak selalu tercatat dalam laporan setebal ratusan halaman.<br \/>\nTetapi tersimpan dalam ingatan kolektif yang diwariskan turun-temurun.<\/p>\n<p>Masyarakat Malind sesungguhnya tidak sedang menolak kemajuan. Buktinya dapat dilihat dari semakin banyak putra-putri daerah yang berhasil menempuh pendidikan tinggi dan menduduki posisi strategis sebagai akademisi, birokrat, pengusaha, tenaga kesehatan, anggota legislatif, maupun tokoh masyarakat.<\/p>\n<p>Mereka membuktikan bahwa Orang Asli Papua mampu bersaing dan berkembang. Namun keberhasilan itu juga mengajarkan satu hal penting. Bahwa kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan budaya. Justru budaya sering menjadi fondasi yang membuat seseorang mampu bertahan menghadapi perubahan.<\/p>\n<p>Karena itu, yang dibutuhkan dalam pelaksanaan PSN bukan sekadar alat berat, investor, dan target produksi. Yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk berdialog. Kesediaan untuk menghormati hak-hak masyarakat adat sebagaimana dijamin dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Otonomi Khusus Papua. Kesediaan untuk memastikan bahwa Orang Asli Papua tidak hanya menjadi penonton ketika tanahnya sedang dibicarakan.<\/p>\n<p>Sebab pembangunan yang sehat tidak lahir dari tepuk tangan yang dipaksakan. Ia lahir dari kepercayaan. Dan kepercayaan tidak bisa dibangun dengan bulldozer. Ia harus ditanam perlahan, seperti orang Malind menanam kebunnya. Mungkin itulah pelajaran terbesar dari Wambad. Bahwa sebelum berbicara tentang ketahanan pangan nasional, ada baiknya kita terlebih dahulu menghormati mereka yang selama berabad-abad menjaga ketahanan pangan di kampungnya sendiri.<\/p>\n<p>Karena sesungguhnya yang sedang dicari negara hari ini, mungkin sudah lama ditemukan oleh orang Malind. Hanya saja mereka tidak pernah menyebutnya proyek strategis. Mereka menyebutnya kehidupan.\u00a0<\/p>\n<p>Burhanuddin Zein, S.H., M.H.<br \/>\nPraktisi Hukum dan Pemerhati Hukum Adat di Merauke<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; teropongistana.com &#8211; Di negeri ini, hampir semua hal akan terlihat lebih meyakinkan jika diberi&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":240458,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1026],"tags":[2565,9207,9209,9211,9210,2340,9208],"class_list":["post-240457","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-asn","tag-burhanuddin-zein","tag-m-h","tag-mambad","tag-merauke","tag-papua","tag-s-h"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/posts\/240457","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/comments?post=240457"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/posts\/240457\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/media\/240458"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/media?parent=240457"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/categories?post=240457"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/teropongistana.com\/ti-json\/wp\/v2\/tags?post=240457"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}