Menu

Mode Gelap
Zulhas Didesak Pecat Anggota DPR RI Muhammad Hatta karena Tidak Amanah Skandal Geomembrane PHR Riau Menguat, CBA Minta KPK dan Kejagung Bergerak Cepat Tolong saya, Film Horor-Romantis Lintas Budaya Indonesia–Korea Kejaksaan Agung Didorong Periksa Staf Ahli di Lingkungan Keuangan Terkait Dugaan Gratifikasi Menag Serukan Kepedulian Alam dan Sosial dalam Peringatan Isra Mikraj 1447 H CBA Dorong Kejagung Selidiki Kebocoran Rp12,59 Triliun di PT Pupuk Indonesia

Politik

Ridwan Hisyam Blak-blakan Soal Golkar, Munaslub, dan Dukungan Politik


					Foto (red). Perbesar

Foto (red).

Teropongistana.com Jakarta – Politikus senior Partai Golkar, Ridwan Hisyam, secara terbuka mengungkap pandangannya di Kanal YouTube Petisi Brawijaya mengenai dinamika internal partai beringin, isu Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub), hingga dukungannya terhadap Presiden Joko Widodo.

Ridwan menegaskan sejak awal dirinya mendukung Jokowi, termasuk ketika Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mencalonkan diri dalam kontestasi internal Golkar, (18/8).

“Saya dukung Jokowi. Kalau Bahlil kan anak buahnya Jokowi. Bosnya siapa? Jokowi. Jadi saya dukung Jokowi,” ujarnya.

Menurut Ridwan, wacana jika suatu saat Jokowi maju sebagai ketua umum Golkar bukanlah hal yang mustahil. Meski berpotensi menimbulkan perdebatan, ia menilai politik bisa terbentuk secara alami tanpa rekayasa.

Berbicara mengenai kiprahnya, Ridwan mengingatkan perjalanan panjangnya di Golkar. Ia pernah menjadi anggota DPR RI selama lima periode sejak era Orde Baru, bahkan sempat menjabat Ketua DPD Golkar Jawa Timur di usia 40 tahun menjadikannya yang termuda di Indonesia kala itu.

“Saya dua kali nyalon ketua umum Golkar, kalah. Tapi lima kali maju parlemen, lima kali menang,” kenangnya.

Terkait isu Munaslub yang kerap mencuat, Ridwan menilai hal tersebut sah secara aturan. Dalam AD/ART partai, Munaslub diperbolehkan.

“Di zaman Bang Ical saja bisa lima kali Munas. Tidak melanggar konstitusi,” jelasnya.

Ia mencontohkan sejarah Munas Golkar yang berlangsung demokratis, seperti terpilihnya Akbar Tanjung pada 1998 maupun Jusuf Kalla di Bali. Karena itu, wacana Munaslub menurutnya hal biasa dalam tradisi partai.

Namun, Ridwan mengaku kecewa saat pernah dicoret dari bursa calon ketua umum dengan alasan tidak memenuhi syarat. Padahal, ia merasa rekam jejaknya di parlemen dan partai sudah lebih dari cukup.

“Saya tahu yang mencoret itu bukan maunya Adies Kadir (Wakil Ketua DPR). Dia kader saya dulu di Surabaya. Saya hanya ketawa, karena sudah tahu peta politiknya,” ucapnya.

Lebih lanjut, Ridwan menegaskan isu Munaslub bukan berasal dari dirinya, melainkan ia hanya menjawab pertanyaan wartawan. Menurutnya, jika Munaslub memenuhi syarat, maka hal itu sah dilakukan.

“Lalu jadi ramai di berita, padahal isu itu sebelumnya muncul dari Nusron dan lingkaran istana. Nusron juga baru menanggapi setelah ramai, sementara pihak istana sendiri sudah membantah dan menegaskan fokus pada program-program,” katanya.

Ridwan menutup dengan pesan agar Golkar tetap menjaga konstitusi partai dan terbuka terhadap dinamika politik, termasuk kemungkinan Munaslub.

“Mulai zaman Orde Baru loh, sejak tahun 1997 saya sudah kampanye bersama Mbak Tutut. Jadi, dinamika di Golkar itu biasa saja,” pungkasnya.

Baca Lainnya

Zulhas Didesak Pecat Anggota DPR RI Muhammad Hatta karena Tidak Amanah

15 Januari 2026 - 21:23 WIB

Zulhas Didesak Pecat Anggota Dpr Ri Muhammad Hatta Karena Tidak Amanah

Pengamat Menilai Perdebatan E-Voting Belum Menyentuh Pokok Persoalan Pilkada

15 Januari 2026 - 09:37 WIB

Pengamat Menilai Perdebatan E-Voting Belum Menyentuh Pokok Persoalan Pilkada

Pakar Politik Sebut Pilkada Tak Langsung Perlemah Demokrasi

25 Desember 2025 - 19:03 WIB

Pakar Politik Sebut Pilkada Tak Langsung Perlemah Demokrasi
Trending di Politik