Menu

Mode Gelap
Kenaikan Pangkat Luar Biasa Atlet TNI Peraih Emas SEA Games Sudah Tepat Ketua DPRD Kota Serang Sosialisasikan Normalisasi Saluran Sungai di Banten Lama Alun-Alun Rangkasbitung Terus Disorot, GMBI Minta Audit Anggaran Rp4,9 Miliar Veteran Pejuang Kemerdekaan Terima Bantuan Wali Kota Palembang DPRD Lebak Dinilai Mandul Awasi Proyek Alun-alun Matahukum : Data di Kemenhut Pintu Masuk Kejagung Gledah KPK Terkait Kasus Tambang

Daerah

Buntut Kematian Driver Ojol, Sahabat Presisi Desak Puan Maharani Mundur dari Jabatan


					Foto (Red) Perbesar

Foto (Red)

Teropongistana.com Jakarta – Tragedi aksi demonstrasi yang menelan korban jiwa seorang pengemudi ojek online (Ojol) bernama Affan Kurniawan (21) meninggalkan luka mendalam bagi bangsa. Peristiwa ini memperlihatkan adanya kegagalan serius DPR RI dalam menjalankan fungsinya sebagai wakil rakyat.

Koordinator Sahabat Presisi, Egi Hendrawan, menegaskan DPR RI justru menjadi biang kerok terjadinya benturan antara aparat keamanan dengan masyarakat.

“Aparat dan rakyat dibenturkan karena DPR menutup mata terhadap aspirasi. Affan adalah korban nyata dari kebuntuan politik yang dipertontonkan DPR RI,” tegasnya, Jum’at (29/8/2025).

Egi juga menyoroti kebijakan DPR yang baru-baru ini memunculkan wacana kenaikan gaji anggota DPR RI di tengah kondisi rakyat yang masih kesulitan secara ekonomi. Menurutnya, hal itu semakin menambah gejolak penolakan dan memperlebar jurang antara rakyat dan wakilnya di Senayan.

“Di saat rakyat menjerit, DPR malah sibuk menaikkan gaji. Sungguh ironi, rakyat dibenturkan dengan aparat, sementara wakil rakyatnya menikmati fasilitas dan tunjangan. Inilah puncak pengkhianatan terhadap demokrasi,” ujarnya keras.

Lebih lanjut, Egi menegaskan bahwa tanggung jawab terbesar ada di pundak Puan Maharani sebagai Ketua DPR RI. Ia menilai Puan gagal menjaga marwah parlemen dan justru membiarkan DPR menjadi simbol kemarahan publik.

“Puan Maharani harus bertanggung jawab penuh. Jalan paling terhormat adalah mundur dari jabatannya. Jika tidak, DPR hanya akan semakin kehilangan legitimasi dan kepercayaan rakyat,” tuturnya.

Egi menyerukan agar DPR segera melakukan introspeksi mendalam, menghentikan wacana kenaikan gaji, dan membuka ruang dialog yang sesungguhnya dengan rakyat. Ia menekankan, aksi demonstrasi adalah hak konstitusional, bukan alasan terjadinya kekerasan dan jatuhnya korban.

“Rakyat hadir untuk menyuarakan keadilan, bukan untuk disambut dengan gas air mata atau peluru. Tragedi Affan adalah alarm bagi demokrasi Indonesia,” pungkasnya.

Baca Lainnya

Ketua DPRD Kota Serang Sosialisasikan Normalisasi Saluran Sungai di Banten Lama

12 Januari 2026 - 01:18 WIB

Ketua Dprd Kota Serang Sosialisasikan Normalisasi Saluran Sungai Di Banten Lama

Alun-Alun Rangkasbitung Terus Disorot, GMBI Minta Audit Anggaran Rp4,9 Miliar

11 Januari 2026 - 23:15 WIB

Alun-Alun Rangkasbitung Terus Disorot, Gmbi Minta Audit Anggaran Rp4,9 Miliar

Veteran Pejuang Kemerdekaan Terima Bantuan Wali Kota Palembang

11 Januari 2026 - 21:19 WIB

Veteran Pejuang Kemerdekaan Terima Bantuan Wali Kota Palembang
Trending di Daerah