Menu

Mode Gelap
Dugaan Aniaya Bawahan: Komisi III Minta Kapolri Evaluasi Kapolres Pasangkayu Tuding Ada Pembiaran TPA, LKPLN: DLH Kabupaten Tangerang Harus Bertanggung Jawab Secara Pidana Hadapi Tantangan Era Digital, Fatayat NU Banten Minta Kader Perkuat Edukasi Anak Komisi IV DPR: Jadikan Hari Kelautan Momentum Perkuat Komitmen Jaga Ekosistem Laut Hasil Sewa Aset Desa Kemiri Menguap, MataHukum: Kejari Karawang Layak Dievaluasi SMSI dan ADPEDNAS Teken Perjanjian Kerja Sama, 3.181 Media Siber Kawal Program Desa

Nasional

Rakyat Terhimpit Ekonomi, Stafsus Bamsoet Malah Pamer Jet Pribadi


					Keterangan foto : Wakil Ketua DPN Gema Kosgoro, Agus Syafrudin, Senin (4/4/2026) Perbesar

Keterangan foto : Wakil Ketua DPN Gema Kosgoro, Agus Syafrudin, Senin (4/4/2026)

Teropongistana.com Jakarta – Aroma kemewahan dan narasi provokatif kembali menyelimuti lingkaran inti politisi senior Golkar sekaligus anggota DPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet). Belum usai publik menyoroti gaya hidup jet set para pejabat, kini giliran staf khusus Bamsoet, Agus Hadsoe, yang memantik kegaduhan lewat unggahan di jet pribadi dengan jaket berlogo DPR RI.

Wakil Ketua DPN Gema Kosgoro, Agus Syafrudin, angkat bicara menanggapi fenomena “sok keras” di atas awan tersebut. Menurutnya, tindakan staf khusus yang memamerkan kemewahan dibalut narasi bernada ancaman adalah bentuk pengkhianatan terhadap etika publik.

Kritik Tajam Gema Kosgoro
Agus Syafrudin menegaskan bahwa seorang staf khusus seharusnya merepresentasikan nilai-nilai kerakyatan, bukan justru memposisikan diri sebagai entitas yang menakutkan bagi rakyat.

“Sangat tidak etis dan memuakkan. Seorang staf khusus yang digaji dari uang negara atau setidaknya bekerja untuk pejabat negara, pamer jet pribadi dengan jaket berlogo institusi negara, lalu menulis kalimat seolah-olah mereka adalah predator bagi rakyat. Kalimat ‘ketika diam kami menjadi ketakutanmu’ itu gaya premanisme, bukan gaya intelektual seorang staf ahli,” ujar Agus Syafrudin saat dihubungi, Senin (4/5).

Agus menambahkan, Bamsoet sebagai atasan harus bertanggung jawab atas perilaku “liar” anak buahnya di ruang digital. Ia menilai hal ini mempertebal jarak antara rakyat dengan wakilnya.

“Rakyat sedang susah secara ekonomi, tapi mereka justru asyik ‘terbang’ tinggi sambil melempar provokasi. Ini adalah sinyal kuat adanya krisis empati yang kronis di lingkaran kekuasaan,” tegasnya.

Sentimen Publik: Dari Harta hingga Rencana Terselubung

Unggahan yang kini telah di-take down tersebut terlanjur menjadi bola salju di media sosial. Netizen tak hanya menyoroti soal jet pribadi, tapi juga mempertanyakan sumber kekayaan dan fungsi kehadiran mereka bagi rakyat.

Akun @musang55561 meluapkan kekecewaannya dengan menulis, “Yang lucunya, mereka kita pilih tujuannya untuk mensejahterakan rakyat tetapi malah hidup mereka, keluarganya, ajudannya, dan staf pribadinya yang sejahtera, ekonominya naik dan gajinya besar.”

Sentimen serupa juga menyasar pada asal-usul kekayaan sang politisi. “Gw bingung sumber hartanya Bamsoet dari mana,” tulis akun bintangsatrio70, merujuk pada hobi Bamsoet mengoleksi mobil mewah dan kerapnya ia terlihat menggunakan fasilitas jet pribadi.

Sementara itu, kecurigaan mengenai adanya manuver politik tertentu muncul dari akun luckfactor786. Ia memperingatkan publik untuk waspada terhadap narasi ‘gerakan’ yang ditulis sang stafsus. “Hati-hati dengan mereka-mereka itu, ada rencana matang yang disiapkan,” tulisnya.

Jejak Kontroversi yang Berulang
Penelusuran tim investigasi menemukan bahwa narasi “ketakutan dan kehancuran” tersebut rupanya sering digunakan Agus Hadsoe dalam berbagai postingannya. Penggunaan atribut DPR RI di fasilitas mewah seperti jet pribadi—yang diklaim Bamsoet sebagai milik kantor atau perusahaan—seolah mengonfirmasi adanya normalisasi gaya hidup mewah di tengah sorotan publik terhadap integritas pejabat.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Bambang Soesatyo belum memberikan keterangan resmi terbaru terkait kegaduhan yang dibuat oleh staf khususnya tersebut. Namun, sejarah mencatat pada 2018, isu serupa pernah mencuat dan hanya berakhir dengan klarifikasi “salah paham”. Kali ini, dengan narasi yang lebih agresif, publik tampaknya tidak akan semudah itu memberikan pemakluman.

Baca Lainnya

Hadapi Tantangan Era Digital, Fatayat NU Banten Minta Kader Perkuat Edukasi Anak

5 Juli 2026 - 08:17 WIB

Hadapi Tantangan Era Digital, Fatayat Nu Banten Minta Kader Perkuat Edukasi Anak

Komisi IV DPR: Jadikan Hari Kelautan Momentum Perkuat Komitmen Jaga Ekosistem Laut

4 Juli 2026 - 18:26 WIB

Baleg Dpr Ri,Komisi Viii,Arif Rahman,Dana Haji

Raja Juli Antoni Terseret Dugaan Suap dan Alih Fungsi Hutan, MataHukum Desak KPK Jangan Main Mata

3 Juli 2026 - 16:26 WIB

Pengamat Dukung Bpk Audit Anggaran Folu Di Kemenhut
Trending di Nasional