KOTA SUKABUMI – Banjir dan longsor yang melumpuhkan 11 titik di Kota Sukabumi pada Jumat (5/12/2025) dinilai sebagai alarm keras bagi Pemerintah Kota Sukabumi dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pengamat lingkungan, Darwanto, menyebut bencana ini menunjukkan lemahnya kontrol dan pengelolaan lingkungan.
“Banjir ini bukan datang tiba tiba. Faktor sampah, drainase, dan tata kelola wilayah sudah berkali kali jadi peringatan. Jika pemerintah daerah sigap dan konsisten, dampaknya tidak sebesar ini,” kata Darwanto.
Ia menilai ironi ketika Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, sering tampil dengan agenda kebersihan, namun bencana akibat buruknya pengelolaan lingkungan tetap berulang.
“Publik melihat aktivitasnya soal kebersihan. Tapi jika masih terjadi banjir dengan skala seperti ini, ada yang tidak berjalan,” ujarnya.
Rumah Terendam, Warga Terjebak Ketinggian Air Tidak Wajar Hujan deras sejak siang hingga malam memicu banjir limpasan dan longsor di 11 lokasi.
Di Gang H. Kholil, Kelurahan Selabatu, Cikole, 11 rumah terendam dengan ketinggian air mencapai paha orang dewasa.
“Sering banjir, tapi tidak pernah seperti ini,” kata Nirma, warga setempat, yang memilih bertahan di lantai dua.
Warga lain, Nde Surahman, mengevakuasi keluarga lansianya. “Ini baru sekarang sedalam ini,” ungkapnya.
BPBD Kota Sukabumi menyebut pemicu bencana adalah kombinasi cuaca ekstrem, penyumbatan sampah, dan buruknya drainase.
Tidak ada korban jiwa. Kerusakan material masih dihitung. Kebutuhan mendesak saat ini adalah terpal untuk rumah warga yang atapnya rusak.
Peringatan Alam yang Tidak Bisa Lagi Diabaikan Air mulai surut, tetapi pekerjaan belum selesai. Pendataan dan penanganan pasca-bencana masih berjalan. Setiap hujan deras kembali turun, kekhawatiran warga ikut datang.
Kota Sukabumi tidak tenggelam. Namun pesannya telak: masalah ini lebih besar daripada sekadar cuaca.








