Teropongistana.com JAKARTA – Matahukum mendukung usulan wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini agar Makan Bergizi Gratis (MBG-red) untuk dihentikan selama libur sekolah. Matahukum menilai karena mayoritas anak sekolah melaksanakan libur dan pada saat distribusi pasti tidak efektif.
“Mayoritas sekolah pasti libur sehingga tidak efektif saat distribusi MBG selama sekolah. Bahkan pendistribusian MBG ini perlu dievaluasi pengolaaannya jangan hanya dijadikan ajang bisnis,” kata Sekjen Matahukum Mukhsin Nasir lewat pernyataanya, Senin (29/12/2025)
Pria yang kerap disapa Daeng tersebut menyebut bahwa pemerintah melalui Badan Gizi Nasional tidak boleh memaksakan distribusi MBG saat libur sekolah karena efektivitasnya diragukan. Kata Daeng, keberlanjutan MBG saat liburan tidak memberikan dampak signifikan bagi pemenuhan gizi anak.
Sebaliknya, kebijakan tersebut berpotensi menjadi pemborosan anggaran di tengah kebutuhan yang lebih mendesak di wilayah lain. Lebih baik anggaran MBG selama masa liburan dimigrasikan untuk daerah bencana di Sumatera dan Aceh. Itu jauh lebih bermanfaat dan benar-benar membantu masyarakat yang membutuhkan,” ucap Daeng dengan nada geram.
“Sebaiknya pemerintah tidak usah memaksakan diri untuk mendistribusikan MBG saat libur sekolah. Toh kemungkinan besar banyak siswa yang sedang pulang kampung atau berwisata,” tambah Daeng.
Selain itu, Daeng juga menyoroti opsi penggantian menu MBG dengan makanan kering selama liburan. Menurutnya, langkah tersebut justru bertentangan dengan tujuan utama program.
“Memang bisa saja diganti dengan kue-kue kering, tapi nilai gizinya rendah. Jadinya malah tidak bergizi dan justru menghamburkan anggaran negara,” jelas Daeng penuh yakin bahwa program MBG sangat dipaksakan oleh pihak terkait.
Daeng menekankan pentingnya evaluasi berbasis kebutuhan riil di lapangan agar kebijakan publik tidak hanya berorientasi pada simbol. Akan tetapi, kata Daeng juga pada efektivitas dan kebermanfaatan anggaran negara.
Di tengah semangat pemerintah memperluas jangkauan program gizi nasional, perbedaan pandangan ini menjadi pengingat bahwa kebijakan sosial perlu disertai perhitungan matang, agar tujuan mulia peningkatan kesejahteraan benar-benar tercapai tanpa menimbulkan pemborosan.
Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi IX DPR Yahya Zaini mendorong pemberian sajian MBG dihentikan sementara sepanjang libur sekolah. Alasannya, menurut Yahya, tak ada pola distribusi yang efektif bila makan gratis itu tetap diterapkan pada libur sekolah.
“Kalau (opsi) makanan diantar ke sekolah, orang tua harus mengeluarkan uang transportasi untuk anaknya,” katanya saat dihubungi pada Kamis, 25 Desember 2025.
Begitu pula dengan opsi distribusi paket MBG dengan diantarkan ke rumah siswa masing-masing oleh petugas. Yahya menilai hal tersebut justru berpotensi menyebabkan pemborosan anggaran Badan Gizi Nasional.
“Sebab, akan menambah ongkos transportasi dari BGN,” ujar politikus Partai Golkar tersebut.
Terlebih, kata Yahya, makanan yang diberikan kepada siswa selama libur sekolah berupa makanan siap saji. Dia mengatakan mendapat informasi bahwa paket MBG selama libur sekolah berupa roti, telur, susu, dan pisang.
Karena itu, Yahya menilai sebaiknya pemberian sajian MBG kepada siswa selama libur sekolah dihentikan. Sedangkan penyaluran makan gratis dengan sasaran ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita disarankan tetap dilanjutkan pada momen pergantian tahun ini.












