Menu

Mode Gelap
Hukum Harus Berjalan Tanpa Pandang Bulu: BEM Persatuan Indonesia Minta Lembaga Negara Sinergi Bukan Bertikai di Kasus Batu Bara Kejaksaan Agung: Hindari Spekulasi, Tunggu Hasil Penyidikan Resmi Sebelum Ambil Kesimpulan Bukan Amplop Biasa, MataHukum Ungkap Uang Suap Kuansing Diduga Melalui Tangan Dirjen Planologi Dazz Diduga Fasilitasi Judi, Formabes Desak Blokir Prof Abdul Fickar Hadjar Dukung Tindakan Polri, Dalami Kasus Korupsi dan TPPU Terkait Febrie Adriansyah IPSM Kabupaten Lebak Peringati HUT ke-51, Wabup Dorong Dukungan Anggaran untuk Pekerja Sosial

Nasional

Azka Aufary Ramli : Hati Saya Tergerak Melihat Tingginya Pengangguran Terbuka


					Keterangan Foto: Azka Aufary Ramli Ketua Umum Asosiasi Pengusaha. Perbesar

Keterangan Foto: Azka Aufary Ramli Ketua Umum Asosiasi Pengusaha.

Teeropongistana.com Jakarta – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2024, tingkat pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 4,91% atau setara dengan 7,47 juta jiwa, jumlah yang lebih besar dari total populasi Singapura yang sekitar 5 juta jiwa.

Jika tidak segera ditangani, situasi ini bisa menjadi malapetaka demografi. Tidak heran, jumlah pengguna narkoba di Indonesia mencapai 3,3 juta orang, pemain judi online 11 juta orang, dan pengguna pinjaman online 129 juta akun.Kontribusi tingkat pengangguran terbuka juga cukup tinggi di kalangan lulusan perguruan tinggi, dengan lulusan diploma sebesar 4,83% dan lulusan universitas 5,25%.

Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi kita semua, karena permasalahan ini belum menemukan solusi yang efektif hingga saat ini. Beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan sarjana antara lain:

1. Kesenjangan keterampilan dengan kebutuhan pasar kerja – Banyak lulusan yang tidak memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri.

2. Kurikulum yang kurang adaptif Sistem pendidikan yang belum sepenuhnya mengikuti perkembangan dunia kerja membuat lulusan kurang siap bersaing.

3. Aspirational mismatch – Lulusan universitas cenderung memiliki ekspektasi tinggi terhadap pekerjaan yang diinginkan, tetapi tidak sesuai dengan realitas pasar kerja. Hal ini menyebabkan mereka lebih lama menganggur dibandingkan lulusan SMA atau diploma.

4. Reservation wage gap  Banyak lulusan yang memilih menunggu pekerjaan yang dianggap ideal, sehingga menunda masuk ke dunia kerja. Selain itu, akses terhadap peluang kerja yang relevan masih menjadi kendala bagi banyak lulusan

“Sebagai Ketua Umum Asosiasi Pengusaha, saya berinisiatif untuk menjadi hub yang menghubungkan institusi pemerintahan, perguruan tinggi, dan pelaku industri agar dapat bersinergi dalam menyelesaikan permasalahan ini” ujar Ketua Umum HIPPI Jakarta Selatan

Upaya ini juga sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran, khususnya poin ke-3 dan ke-4, yaitu:

Meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas dan Memperkuat sumber daya manusia Indonesia.

Baca Lainnya

Kejaksaan Agung: Hindari Spekulasi, Tunggu Hasil Penyidikan Resmi Sebelum Ambil Kesimpulan

9 Juli 2026 - 21:01 WIB

Kejaksaan Agung: Hindari Spekulasi, Tunggu Hasil Penyidikan Resmi Sebelum Ambil Kesimpulan

Tragedi Bekasi Timur: BUMN Harus Utamakan Keselamatan & Pelayanan, Bukan Sekadar Keuntungan

8 Juli 2026 - 13:31 WIB

Tragedi Bekasi Timur: Bumn Harus Utamakan Keselamatan &Amp; Pelayanan, Bukan Sekadar Keuntungan

Peradi Profesional Jalin Kerjasama Strategis dengan Singapore Probono dan NYC Bar, Kembangkan Budaya Probono di Indonesia

8 Juli 2026 - 07:52 WIB

Peradi Profesional Jalin Kerjasama Strategis Dengan Singapore Probono Dan Nyc Bar, Kembangkan Budaya Probono Di Indonesia
Trending di Nasional