Menu

Mode Gelap
Kejagung Tolak Permohonan Justice Collaborator Tersangka Kasus MBG Ikhyar Velayati : MBG Meningkatkan Ekonomi Nasional dan Menyerap Jutaan Tenaga Kerja LHKPN Dua Pejabat Kemendag Disorot, Muncul Nama Mereka di Kasus Suap Blueray Cargo Disekap dan Dianiaya 3 Tahun, Matahukum: Negara Wajib Lindungi Korban, Tangkap Pelaku Sekarang CBA Sebut Penyidikan KPK di Bea Cukai Janggal, Diduga Lindungi Jaringan Mafia Semakin Kencang Wacana Dua Periode, Ruang Bersaing Figur Koalisi Menuju 2029 Makin Sempit

Nasional

Mubarok Institute Menyikapi Dinamika Politik dalam Perspektif Geostrategi dan Geopolitik Indonesia


					Chairman Mubarok Institute, Fadhil As. Mubarok, Rabu (11/3/2026) Perbesar

Chairman Mubarok Institute, Fadhil As. Mubarok, Rabu (11/3/2026)

Teropongistana.com JAKARTA – Menjelang simposium strategis yang dijadwalkan berlangsung di kawasan SCBD, Jakarta, Chairman Mubarok Institute, Fadhil As. Mubarok, menyampaikan pernyataan sikap tegas terkait posisi geostrategi Indonesia. Dalam siaran persnya pada Rabu (11/3), ia menekankan bahwa Indonesia kini berada pada titik krusial diplomasi modern yang menuntut peran sebagai “determinan kebijakan” di panggung dunia.

Menurut Fadhil, pergeseran kekuatan global menuju pola multipolaritas saat ini dibarengi dengan turbulensi geopolitik yang semakin kompleks. Oleh karena itu, paradigma politik luar negeri Bebas Aktif harus diredefinisi secara lebih berani dan progresif.

“Politik Bebas Aktif tidak boleh sekadar menjadi jargon netralitas. Ia harus diimplementasikan secara substantif sebagai instrumen untuk mengamankan kepentingan nasional di tengah volatilitas global,” ujar sosok yang akrab disapa Gus Fadhil tersebut.

Tiga Pilar Ketahanan Nasional

Mubarok Institute menggarisbawahi tiga paradigma strategis yang menjadi kunci kedaulatan Indonesia ke depan, yaitu:
Pertama, Redefinisi Geopolitik
Merespons dinamika kawasan Timur Tengah dan persaingan hegemoni di kawasan Pasifik dengan merekonstruksi paradigma geostrategi nasional guna mencapai kedaulatan yang lebih substantif.

Kedua, Integrasi Infrastruktur dan Ekonomi
Memandang kedaulatan fisik dan stabilitas sektor keuangan sebagai conditio sine qua non atau syarat mutlak bagi terciptanya ketahanan nasional yang holistik.

Ketiga, Mitigasi Krisis Global
Mendorong kebijakan kemandirian (self-sufficiency) di sektor pangan dan energi untuk menghadapi gangguan rantai pasok global (supply chain disruption), selaras dengan visi Asta Cita.

Momentum Rekonsiliasi Intelektual

Pernyataan ini disampaikan sebagai pengantar menuju diskusi strategis yang akan dihadiri sejumlah tokoh nasional di Resto Batik Kuring, Jakarta, pada Sabtu, 14 Maret 2026 mendatang. Fadhil menegaskan bahwa pertemuan tersebut dirancang sebagai wadah brainstorming nasional untuk merumuskan pemikiran kolektif yang jujur, bersih, dan berpihak kepada rakyat.

Senada dengan Fadhil, Sekretaris Jenderal Mubarok Institute, Herry Purnomo, menegaskan bahwa Indonesia harus mampu memainkan peran strategis di tengah dinamika global.

“Indonesia harus tetap tegak sebagai kekuatan alternatif yang disegani. Kita harus mampu memerankan politik perdamaian dunia tanpa mengorbankan kesejahteraan rakyat sendiri,” ungkapnya.

Pertemuan tersebut diharapkan mampu melahirkan rekomendasi taktis bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas domestik agar tidak terkooptasi oleh kepentingan transnasional yang merugikan negara.

Baca Lainnya

Ikhyar Velayati : MBG Meningkatkan Ekonomi Nasional dan Menyerap Jutaan Tenaga Kerja

23 Juni 2026 - 16:50 WIB

Ikhyar Velayati : Mbg Meningkatkan Ekonomi Nasional Dan Menyerap Jutaan Tenaga Kerja

LHKPN Dua Pejabat Kemendag Disorot, Muncul Nama Mereka di Kasus Suap Blueray Cargo

22 Juni 2026 - 19:52 WIB

Lhkpn Dua Pejabat Kemendag Disorot, Muncul Nama Mereka Di Kasus Suap Blueray Cargo

Disekap dan Dianiaya 3 Tahun, Matahukum: Negara Wajib Lindungi Korban, Tangkap Pelaku Sekarang

22 Juni 2026 - 17:24 WIB

Disekap Dan Dianiaya 3 Tahun, Matahukum: Negara Wajib Lindungi Korban, Tangkap Pelaku Sekarang
Trending di Nasional