Menu

Mode Gelap
Modernisasi Ancam Tradisi, Adde Rosi Tegaskan Pelestarian Seba Baduy Butuh Kebijakan Nyata Keluarga Korban Penikaman Desak Polisi Tangkap Pelaku Laksa Seba Baduy Diberikan ke Gubernur: Bukan Sekadar Hasil Bumi, Tapi Amanat yang Harus Dijaga Seumur Hidup Tiga Faktor Penentu Reshuffle: Kinerja, Pertimbangan Pribadi, dan Dukungan Politik Batas Jabatan Ketum Partai: Antara Harapan Regenerasi dan Risiko Perpecahan Organisasi Matahukum Cium Agenda Elit Politik di Lingkaran Presiden Prabowo

Headline

Modernisasi Ancam Tradisi, Adde Rosi Tegaskan Pelestarian Seba Baduy Butuh Kebijakan Nyata


					Keterangan foto : Seba Baduy di Pendopo Lebak, Minggu (26/4/2026) Perbesar

Keterangan foto : Seba Baduy di Pendopo Lebak, Minggu (26/4/2026)

Teropongistana.com Lebak – Tradisi Seba Baduy yang digelar di Pendopo Bupati Kabupaten Lebak kembali menjadi sorotan utama, tidak hanya sebagai agenda budaya tahunan, tetapi juga cerminan hubungan harmonis antara masyarakat adat dan pemerintah. Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Banten dari Fraksi Partai Golkar, Adde Rosi Khoerunnisa, memberikan perhatian khusus terhadap pelaksanaan tradisi ini. Baginya, Seba Baduy memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar kegiatan seremonial belaka.

Adde Rosi menilai, tradisi ini merupakan simbol kuat yang merepresentasikan rasa syukur masyarakat atas hasil bumi yang diberikan alam, sekaligus bentuk penghormatan dan ketaatan kepada pemerintah sebagai pemangku kebijakan yang melindungi kehidupan warga. Di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur yang sudah diwariskan turun-temurun dan wajib dipelihara agar tidak punah ditelan zaman.

“Ini bukan sekadar seremoni tahunan biasa. Di dalamnya tersimpan filosofi mendalam tentang kesederhanaan, kejujuran, serta keseimbangan hidup antara manusia dan alam yang harus kita jaga bersama-sama,” ujar Adde Rosi sebagaimana tertulis dalam unggahannya di akun media sosial Instagram, Minggu (26/4/2026).

Kearifan Lokal yang Mengajarkan Keseimbangan Hidup

Sebagai salah satu warisan budaya tak benda yang berharga, Seba Baduy menjadi bukti nyata kekayaan kearifan lokal yang dimiliki Indonesia. Dalam prosesinya, masyarakat adat berjalan kaki menempuh perjalanan jauh untuk menyerahkan hasil bumi sebagai wujud pengabdian dan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus kepada pemerintah.

Bagi Adde Rosi, nilai utama yang bisa dipetik dari tradisi ini adalah ajaran tentang keseimbangan. Di tengah gempuran modernisasi yang kerap mengedepankan pertumbuhan ekonomi semata, ajaran yang dibawa masyarakat Baduy justru menjadi pengingat penting bahwa kemajuan tidak harus dicapai dengan mengorbankan kelestarian alam dan lingkungan hidup.

“Dari masyarakat Baduy, kita belajar satu hal berharga: kemajuan dan pembangunan tidak harus merusak alam. Justru keseimbangan antara keduanya inilah yang menjadi kunci agar kehidupan berjalan berkelanjutan dan bermanfaat bagi generasi mendatang,” tegasnya.

Tantangan di Tengah Arus Perubahan

Di balik keindahan dan kekayaan makna yang terkandung, tradisi ini saat ini menghadapi sejumlah tantangan yang mengancam keberlangsungannya. Tekanan arus modernisasi dan perubahan pola hidup masyarakat perlahan mulai memengaruhi keberadaan adat istiadat tersebut.

Beberapa persoalan krusial yang menjadi perhatian antara lain: menurunnya minat generasi muda untuk mempelajari dan melestarikan warisan leluhur, tekanan aktivitas pembangunan yang berpotensi mengganggu kawasan adat dan tempat tinggal masyarakat Baduy, serta kurangnya pemahaman masyarakat luas terhadap makna dan nilai sesungguhnya dari tradisi ini.

Menurut Adde Rosi, jika berbagai permasalahan ini dibiarkan tanpa penanganan yang serius, maka dikhawatirkan Seba Baduy hanya akan menjadi kegiatan seremonial belaka tanpa ada makna hakiki yang dijalankan, atau bahkan semakin terlupakan seiring berjalannya waktu.

“Pelestarian budaya tidak akan berhasil jika hanya dilakukan dengan menggelar acara seremonial setiap tahunnya. Harus ada kebijakan yang nyata, perlindungan hukum yang jelas terhadap wilayah adat, serta program edukasi yang berkelanjutan agar nilai-nilai ini terus dipahami dan diamalkan,” tegasnya.

Komitmen Wakil Rakyat untuk Pelestarian Budaya

Sebagai wakil rakyat yang mewakili suara masyarakat Banten, Adde Rosi menegaskan komitmennya untuk terus berjuang melindungi dan mengembangkan kekayaan budaya daerah. Ia secara aktif mengangkat isu kearifan lokal dalam berbagai pertemuan dan forum pembahasan kebijakan di tingkat nasional, agar warisan budaya daerah mendapatkan perhatian dan dukungan yang memadai.

Lebih jauh, Adde Rosi melihat potensi besar yang dimiliki tradisi ini. Bukan hanya sebagai identitas kebanggaan masyarakat Banten semata, tetapi juga bisa diangkat sebagai kekuatan diplomasi budaya yang mampu memperkenalkan kearifan lokal Indonesia kepada dunia internasional.

“Budaya adalah kekuatan besar yang kita miliki. Jika dikelola dengan baik, terjaga keasliannya, dan dikembangkan dengan cara yang tepat, maka ini akan menjadi kebanggaan nasional sekaligus daya tarik tersendiri yang dikenal hingga mancanegara,” ujarnya.

Adde Rosi pun mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh masyarakat, hingga generasi muda, untuk bergandengan tangan menjaga warisan ini. Ia menekankan bahwa pelestarian budaya tidak bisa dilakukan hanya oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kerja sama dan kolaborasi lintas sektor yang kuat.

“Mari kita jadikan Seba Baduy sebagai pengingat bahwa jati diri dan identitas bangsa kita bersumber dari kekayaan budaya yang dimiliki. Kalau bukan kita yang menjaga dan melestarikannya sekarang, siapa lagi yang akan melakukannya?” pungkasnya.

Tradisi Seba Baduy adalah milik bersama seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya milik masyarakat adat atau warga Banten saja. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, peran aktif tokoh publik, serta kesadaran seluruh lapisan masyarakat, diharapkan warisan luhur ini akan terus hidup, berkembang, dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi mendatang.

Baca Lainnya

Laksa Seba Baduy Diberikan ke Gubernur: Bukan Sekadar Hasil Bumi, Tapi Amanat yang Harus Dijaga Seumur Hidup

26 April 2026 - 21:52 WIB

Laksa Seba Baduy Diberikan Ke Gubernur: Bukan Sekadar Hasil Bumi, Tapi Amanat Yang Harus Dijaga Seumur Hidup

Tiga Faktor Penentu Reshuffle: Kinerja, Pertimbangan Pribadi, dan Dukungan Politik

26 April 2026 - 21:46 WIB

Tiga Faktor Penentu Reshuffle: Kinerja, Pertimbangan Pribadi, Dan Dukungan Politik

Batas Jabatan Ketum Partai: Antara Harapan Regenerasi dan Risiko Perpecahan Organisasi

26 April 2026 - 21:35 WIB

Pendaftaran Capres-Cawapres Dibuka, Cek Selengkapnya
Trending di News