Teropongistana.com Jakarta – Berbagai narasi yang menyebut Amerika Serikat dan Israel kalah dalam konflik melawan Iran dinilai tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Justru sebaliknya, Iran dinilai mengalami kekalahan telak yang luar biasa, baik dari segi kekuatan militer maupun keruntuhan ekonomi yang sangat parah.
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Politic and Public Policy Studies (P3S), Dr. Jerry Massie, PhD, yang juga merupakan pakar politik asal Amerika Serikat. Menurutnya, banyak pengamat yang salah kaprah dan tidak memahami kondisi riil di lapangan.
“Banyak yang berpendapat Amerika kalah perang lawan Iran, bahkan klaim kekuatan militer AS tersisa 50 persen. Itu adalah klaim sesat. Faktanya justru Iran yang hancur lebur dan kalah telak baik secara militer maupun ekonomi,” tegas Jerry Massie dalam keterangannya.
Hancurnya Kekuatan Militer Iran
Jerry membeberkan data yang sangat mengejutkan. Dalam konflik ini, kekuatan militer Iran nyaris tak berdaya menghadapi teknologi canggih lawan.
“Kurang lebih 6.500 pasukan Iran tewas, 160 kapal perang dan kapal induk hancur, hingga 55 pemimpin tertinggi gugur. Lebih dari 90 persen rudal mereka berhasil dihalau oleh Iron Dome, Laser Dome, hingga sistem Helios buatan Amerika,” ungkapnya.
Kondisi infrastruktur Iran pun porak-poranda. Jembatan, gedung pemerintahan, kampus, bandara, rumah sakit, hingga stadion hancur total. Kerugian akibat kerusakan fisik ini diperkirakan mencapai 4,6 kuadriliun dolar AS atau setara dengan Rp4.600 triliun.
Sangat ironis, menurut Jerry, Amerika bahkan sampai menghancurkan pabrik-pabrik vital, termasuk pabrik produksi obat kanker, serta menghancurkan 20.000 unit pabrik lainnya, melumpuhkan total roda industri negara tersebut.
Saat ini, Amerika Serikat benar-benar menguasai Selat Hormuz. Puluhan kapal perang dan induk serta 50 ribu pasukan disiagakan, bahkan kapal kargo China pun dilarang melintas di perairan strategis tersebut.
Ekonomi Ambrol, Rakyat Menderita
Kekalahan tidak hanya di medan tempur, perang ekonomi pun membuat Iran tak berdaya. Jerry menyoroti dampak yang sangat menyakitkan bagi rakyat.
“Akibat perang ini, satu juta orang menderita dan belum digaji. Mata uang Rial terjun bebas menjadi mata uang terburuk nomor satu di dunia, nilainya tembus Rp1,8 juta per 1 dolar,” jelasnya.
Kerugian akibat blokade mencapai Rp8,5 triliun per hari. Harga kebutuhan pokok melambung tinggi, daging ayam naik 75%, sapi dan domba 68%, serta susu naik 50%.
Selat Hormuz yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama Garda Revolusi Iran (IRGC) kini mati suri. Yang biasanya dilewati 127-140 kapal per hari, kini hanya tersisa 5-7 kapal saja. Hal ini sangat merugikan negara-negara besar seperti China, India, Jepang, dan Korsel yang sangat bergantung pada jalur ini.
Iran Minta Damai, Trump Tolak
Situasi yang semakin terdesak membuat Iran akhirnya mengajukan proposal perdamaian. Namun, upaya itu ditolak mentah-mentah oleh Presiden AS, Donald Trump.
“Iran sudah mengirimkan proposal damai, tapi Donald Trump menolak. Alasannya sederhana, karena Iran belum benar-benar menghentikan program nuklir mereka,” pungkas Jerry.









