Menu

Mode Gelap
BGN Kunjungi Korban Kecelakaan SPPG Langkat, Solusi Masih Menggantung Solusi Keterisolasian, Jembatan Perintis Garuda Membuka Akses Selatan Dugaan Korupsi Beasiswa PIP, Dua Anggota DPR RI Kini Dibidik KPK Jeritan Rakyat di Balik Serang Bahagia, Abah Elang: Pengangguran Masih Tinggi Waspada PHK Prematur di Kasus Kecelakaan Kereta, Diperiksa Bukan Berarti Langsung Bersalah Harta Naik Drastis, BaraNusa: Teddy Wajib Jelaskan ke Publik

Nasional

Waspada PHK Prematur di Kasus Kecelakaan Kereta, Diperiksa Bukan Berarti Langsung Bersalah


					Keterangan foto : PT KAI Daop 1 Jakarta telah melakukan persiapan di berbagai aspek baik dari sisi sarana, prasarana dan SDM. Dari kesiapan prasarana, Kamis (13/4/2023) Perbesar

Keterangan foto : PT KAI Daop 1 Jakarta telah melakukan persiapan di berbagai aspek baik dari sisi sarana, prasarana dan SDM. Dari kesiapan prasarana, Kamis (13/4/2023)

Teropongistana.com Jakarta – Kasus kecelakaan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di kawasan Bekasi Timur terus bergulir. Hingga saat ini, pihak kepolisian telah memeriksa sedikitnya 31 saksi, termasuk masinis dan petugas operasional lapangan.

Merespons dinamika penyidikan tersebut, Praktisi Hubungan Industrial dan Hukum, Irman Bunawolo, memberikan peringatan keras agar kasus ini tidak dijadikan alasan untuk menindas pekerja di level bawah.

“Ini peringatan dini. Jangan sampai proses pemeriksaan yang sedang berjalan dijadikan pintu masuk atau pembenaran untuk menjatuhkan sanksi tegas, termasuk Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara prematur,” tegas Irman.

Diperiksa Bukan Berarti Bersalah

Irman menegaskan bahwa status saksi atau tersangka dalam proses hukum belum bisa dijadikan dasar kesalahan mutlak. Ia menyoroti bahaya jika manajemen bertindak terburu-buru hanya karena tekanan situasi.

“Harus bisa dibedakan antara status diperiksa dengan dinyatakan bersalah. Selama belum ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, hak-hak pekerja tetap utuh dan tidak boleh dikurangi secara sepihak,” ujarnya.

Pengalaman di berbagai kasus serupa, lanjut Irman, sering kali menunjukkan pola yang menyedihkan. Pekerja lapangan sering menjadi sasaran kemarahan publik dan target sanksi administratif, mulai dari skorsing hingga PHK, sementara akar masalah yang sebenarnya justru tertutupi.

Pekerja Jalankan Sistem, Bukan Menciptakan Sistem

Lebih dalam, Irman menyoroti kompleksitas dunia perkeretaapian. Menurutnya, kesalahan individu jarang menjadi satu-satunya penyebab, melainkan sering kali merupakan puncak gunung es dari kegagalan sistem.

“Pekerja itu menjalankan sistem, bukan yang menciptakan sistem. Kalau ada kegagalan, harus dilihat secara menyeluruh: apakah dari sisi infrastruktur, persinyalan, Standar Operasional Prosedur (SOP), atau pengawasan manajemen,” jelasnya.

Ia menilai tidak adil jika beban tanggung jawab hanya ditumpukkan pada individu, padahal faktanya operasional kereta api melibatkan banyak elemen dan lapisan manajemen.

“Jangan sampai fokus hanya pada individu sehingga tanggung jawab sistemik justru lolos dan teralihkan. Keadilan harus ditegakkan, bukan hanya mencari kambing hitam,” pungkas Irman.

Baca Lainnya

Harta Naik Drastis, BaraNusa: Teddy Wajib Jelaskan ke Publik

5 Mei 2026 - 19:04 WIB

Harta Naik Drastis, Baranusa: Teddy Wajib Jelaskan Ke Publik

MataHukum ke Presiden Prabowo: Copot Bahlil, Rakyat Tercekik BBM Naik

5 Mei 2026 - 15:21 WIB

Jakarta — Aliansi Muda Garuda Indonesia (Ampgi) Mohamad Menyatakan Bahwa Presiden Prabowo Subianto Sudah Saatnya Mengambil Langkah Tegas Dengan Melakukan Reshuffle Kabinet. Menurut Mereka, Sejumlah Menteri Di Kabinet Saat Ini Justru Menjadi Penghambat Jalannya Pemerintahan Yang Efektif Dan Berintegritas. “Presiden Harus Berani Melepaskan Diri Dari Bayang-Bayang Pemerintahan Sebelumnya. Kabinet Saat Ini Perlu Dibersihkan Dari Tokoh-Tokoh Yang Lebih Sering Membuat Kegaduhan Ketimbang Bekerja Untuk Rakyat,” Tegas Perwakilan Ampgi Mohamad Dalam Pernyataan Resminya, Rabu (22/5). Ampgi Menyoroti Beberapa Nama Yang Dinilai Tidak Menunjukkan Kinerja Optimal Dan Justru Lebih Menonjolkan Kepentingan Pribadi. Salah Satu Yang Menjadi Sorotan Adalah Menteri Investasi, Bahlil Lahadalia. “Bahlil Kerap Menciptakan Panggung Untuk Dirinya Sendiri, Terkesan Lebih Sibuk Membangun Citra Pribadi Ketimbang Fokus Menjalankan Tugas Negara. Ini Menjadi Beban Bagi Presiden Prabowo,” Lanjutnya. Ampgi Juga Menyatakan Bahwa Reshuffle Bukan Hanya Menjadi Kebutuhan Politik, Tetapi Juga Menjadi Sinyal Penting Bahwa Presiden Prabowo Adalah Pemimpin Yang Mandiri Dan Bukan Sekadar Penerus Kebijakan Pemerintahan Sebelumnya. “Kami Mendesak Agar Menteri-Menteri Yang Terlalu Lekat Dengan Kepentingan Masa Lalu Segera Digantikan Oleh Profesional Yang Kompeten Dan Paham Terhadap Tugas Pokoknya. Jangan Sampai Publik Menganggap Presiden Prabowo Hanya Sekadar Simbol Atau ‘Boneka Politik’,” Pungkasnya.

Janji Dihapus, Nyatanya Dikukuhkan Permenaker Baru Dinilai Legitimasi Outsourcing

5 Mei 2026 - 15:10 WIB

Janji Dihapus, Nyatanya Dikukuhkan Permenaker Baru Dinilai Legitimasi Outsourcing
Trending di Nasional