Menu

Mode Gelap
Harga Batik Setda DKI Capai Rp2,9 Juta per Lembar, CBA Sindir Seolah Dicampur Emas Dari Gelombang Hallyu ke Pelukan Nenek Aliansi BEM Serukan Demokrasi Berbasis Dialog dan Argumen, Bukan Provokasi 53 Siswa SDN 09 Lenteng Agung Ikuti Perkemahan Pramuka di Wisata Alam Pangrango Mengenal Hutan, Menumbuhkan Kepedulian Anak terhadap Lingkungan Surat Asli Berisi 20 Nama Dititipkan Sony Sonjaya untuk Disimpan oleh Yusuf

Headline

Dari Gelombang Hallyu ke Pelukan Nenek


					Dari Gelombang Hallyu ke Pelukan Nenek Perbesar

 

teropongistana,  Jakarta — Selama bertahun-tahun, publik Indonesia telah akrab dengan berbagai wajah hiburan Korea Selatan. Dari dentuman musik BTS, BLACKPINK, NCT hingga EXO, hingga drama-drama Korea yang membuat penonton rela begadang demi satu episode lagi.

Bioskop pun tak luput dari demam Hallyu. Film-film seperti Parasite, Train to Busan, The Moon, dan Exhuma membuktikan bahwa cerita dari Negeri Ginseng mampu menembus batas bahasa dan budaya.

Namun di tengah kisah-kisah besar yang mendunia itu, sebuah film baru memilih jalan yang lebih sederhana.
Bukan tentang monster, bencana, atau intrik sosial. Melainkan tentang seorang nenek dan cucunya.

Film itu berjudul Dua Nafas.
Kolaborasi antara sineas Indonesia dan Korea Selatan ini menjadi salah satu upaya mempertemukan dua budaya yang ternyata memiliki kesamaan nilai yang kuat: penghormatan kepada keluarga.
Produser Park Joung-Kuk mengakui, besarnya antusiasme masyarakat Indonesia terhadap hiburan Korea menjadi salah satu alasan lahirnya proyek tersebut.

“Tidak bisa dipungkiri bahwa industri hiburan Korea diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia. Film-film Korea dan drama Korea memiliki tempat tersendiri di hati penonton Indonesia. Karena itu kami optimistis Dua Nafas juga dapat diterima dengan baik,” ujarnya.

Meski demikian, Park menegaskan bahwa kekuatan utama film ini bukan terletak pada label Korea atau Indonesia, melainkan pada cerita yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Keyakinan serupa disampaikan Eksekutif Produser Kwon Dae-Hyung. Menurutnya, masyarakat Indonesia dan Korea memiliki kedekatan emosional dalam memandang keluarga, terutama sosok orang tua dan nenek.

“Di Korea maupun Indonesia, nenek sering menjadi simbol kasih sayang, pengorbanan, dan rumah tempat seseorang selalu ingin kembali. Karena itu kami merasa cerita ini dapat diterima oleh kedua masyarakat,” katanya.

Tentang Rumah yang Bernama Nenek
Dua Nafas berkisah tentang Anto, seorang anak yang harus meninggalkan kenyamanan hidup di Jakarta ketika ibunya, Wati, menitipkannya kepada sang nenek, Mariyam, yang tinggal di sebuah desa terpencil.

Bagi Anto kecil, keputusan itu terasa seperti hukuman. Ia harus berpisah dari kehidupan kota yang selama ini dikenalnya. Rumah sederhana, lingkungan desa, dan kesunyian menjadi bagian dari kesehariannya yang baru.

Namun hidup perlahan mengubah cara pandangnya Kehadiran Putri dan Udin membuat hari-harinya lebih berwarna. Di saat yang sama, Anto mulai memahami cinta yang selama ini diberikan Mariyam. Cinta yang tidak banyak bicara, tetapi selalu hadir dalam setiap kebutuhan dan pengorbanan.

Waktu terus berjalan. Hubungan nenek dan cucu itu tumbuh semakin erat hingga akhirnya Anto berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi seorang dokter.
Enam belas tahun kemudian, ia kembali ke desa dengan membawa ijazah sebagai simbol keberhasilannya. Ia ingin mempersembahkan pencapaian itu kepada perempuan yang telah merawat dan membesarkannya.

Namun kepulangan yang ia bayangkan berubah menjadi perpisahan.
Anto mendapati meja makan telah dipenuhi hidangan kesukaannya. Mariyam telah menyiapkan semuanya dengan penuh sukacita. Tetapi sang nenek tak lagi bisa menyambutnya.

Ia ditemukan telah meninggal dunia dalam posisi duduk, seolah masih menunggu cucu yang selama bertahun-tahun menjadi alasan perjuangannya.

Momen itulah yang menjadi titik paling emosional dalam film ini. Sebuah pengingat bahwa kasih sayang sering kali hadir dalam bentuk yang paling sederhana, dan bahwa tidak semua ucapan terima kasih sempat menemukan waktunya.

Kolaborasi Dua Negara, Satu Bahasa Bernama Keluarga
Film Dua Nafas disutradarai Hasto Broto dengan Park Joung-Kuk dan Syakiru Daulay sebagai produser. Naskahnya ditulis oleh Jo Hyeon Suk dan Exan Zen.

Produksi film ini juga melibatkan sejumlah kru dari berbagai bidang, di antaranya Afriyas SK sebagai Art Director, Zavier Mulia Harimurti sebagai Sound Recordist, Elang Tinangon sebagai Editor, Anwar Faudzi sebagai penata musik, serta Asep sebagai Director of Photography.

Sementara jajaran pemain diperkuat oleh Aty Cancer, Adelia Rasya, Auzan Noh Karepesina, Mantra Gurindam Smaratungga, dan Bilqis Hafsa.
Bagi Park Joung-Kuk, Dua Nafas bukan sekadar film keluarga. Ia berharap karya ini dapat menjadi bagian dari upaya memperkaya khazanah perfilman Indonesia sekaligus mempererat hubungan budaya antara Indonesia dan Korea Selatan.

“Dengan segala kerendahan hati, kami berharap dukungan masyarakat dan rekan-rekan media. Semoga Dua Nafas dapat menjadi cerita yang menghangatkan hati penonton Indonesia,” ujarnya.

Karena pada akhirnya, di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar kesuksesan, Dua Nafas mengingatkan satu hal sederhana: bahwa selalu ada seseorang di rumah yang menunggu kita pulang. Dan sering kali, orang itu adalah nenek. ((Stn)

Baca Lainnya

Skandal Sawah Tangerang: MataHukum Tuding Pemkab Main Mata

30 April 2026 - 21:52 WIB

Skandal Sawah Tangerang: Matahukum Tuding Pemkab Main Mata

Krisis Kerja Berlapis, 84 Juta Orang Bekerja Hanya untuk Bertahan Hidup

30 April 2026 - 19:25 WIB

Krisis Kerja Berlapis, 84 Juta Orang Bekerja Hanya Untuk Bertahan Hidup

Minta Damai Ditolak Trump, Iran Terdesak Ekonomi Hancur dan Industri Lumpuh

30 April 2026 - 18:12 WIB

Minta Damai Ditolak Trump, Iran Terdesak Ekonomi Hancur Dan Industri Lumpuh
Trending di Headline