Menu

Mode Gelap
Diklat Petugas Haji Hendaknya tidak Sekadar Formalitas Lurah Muara Ciujung Barat Dukung Perbaikan Jalan dan Drainase Kaum Lebak Forkopimda Kota Serang Perkuat Sinergi Jelang Agenda Januari 2026 Smelter Harita Group di Pulau Obi Diduga Lakukan Genosida Emisi Oknum Kuasa Hukum Diduga Ambil Dompet Petugas Security di PN Rangkasbitung KPK Tetap Eks Menag Yaqut Jadi Tersangka, Komisi VIII: Penyelenggaraan Haji Harus Lebih Baik

Nasional

Alami Kesulitan Selama Tahun 2022, Begini Harapan Nelayan Indonesia di 2023


					Alami Kesulitan Selama Tahun 2022, Begini Harapan Nelayan Indonesia di 2023 Perbesar

Teropongistana.com Jakarta –Kehidupan Nelayan mengalami kesulitan sepanjang Tahun 2022. Banyak kondisi dan kebijakan yang sangat mendera. Nelayan pun menyuarakan harapannya di Tahun Baru 2023.

Nelayan berharap, kehidupan lebih baik dengan kebijakan-kebijakan pro nelayan akan terus dilakukan di tahun 2023.

Ketua Hubungan Antar Lembaga Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), Siswaryudi Heru, menyampaikan, sudahilah situasi dan kebijakan yang tidak pro masyarakat kecil, seperti nelayan.

“Kebijakan atau regulasi, jangan cucuk, cabut-cabut, berubah-berubah, yang juga membuat Pelaku Usaha kesulitan membuat setting bisnis dan membuat planning berantakan,” tutur Siswaryudi Heru, kepada wartawan, di Tahun Baru 2023, Minggu (01/01/2023).

Baca juga : Erick Thohir Prioritaskan BBM dan Pembiayaan untuk Nelayan

Kemudian, lanjut Siswaryudi Heru yang juga Ketua Perikanan Dewan Ekonomi Indonesia Timur (DEIT), nelayan Indonesia membutuhkan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang stabil, sehingga diharapkan bisa memutar roda perekonomian.

“Subsidi BBM kepada nelayan hingga 60 Gross Ton, dan jaminan suplai BBM, sangat dibutuhkan untuk memutar roda perekonomian yang sedang terseok-seok,” lanjut Siswaryudi Heru.

Saat ini, dikatakan Siswaryudi Heru yang juga merupakan Wakil Ketua Komite Tetap Perdagangan Kamar Dagang Dan Industri Indonesia (Wakomtap Perdag KADIN), di kalangan nelayan kecil, ketersediaan solar sangat minim, dan sulit diperoleh.

“Saat ini, solar mahal. Sehingga, operasional sangat tinggi,” ujarnya.

Siswaryudi Heru juga meminta agar Tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (BNPB) hendaknya dibuat maksimal 3 persen saja. Sebab, jika tarif PNBP lebih tinggi lagi, akan berimbas pada biaya operasional dan penghasilan nelayan yang terus berkurang sangat drastis.

“Jadi, tarif PNBP sebaiknya maksimal 3 persen dari hasil tangkapan kotor,” pinta Siswaryudi Heru.

Dia juga berharap, Pemerintah bisa membantu nelayan dengan tidak membiarkan harga patokan ikan mengikuti mekanisme pasar. Sebab, jika mengikuti mekanisme pasar, pastinya nelayan akan terus menerus menjadi obyek yang sangat dirugikan.

“Dan dalam menentukan harga patokan ikan, jangan dipatok harus mengikuti mekanisme pasar,” harap Siswaryudi Heru.

Dengan harapan-harapan nelayan yang disampaikannya itu, Siswaryudi Heru, juga meminta agar Pemerintah tetap memperhatikan kebijakan-kebijakan yang pro nelayan di sepanjang tahun 2023 ini.

“Itulah harapan-harapan kami para nelayan, kiranya di tahun baru ini, di tahun 2023 ini, kondisi kehidupan nelayan Indonesia, terutama nelayan kecil, kiranya bisa bangkit dan semakin berkonstribusi positif bagi kebangkitan perekonomian Nasional kita,” tandas Siswaryudi Heru. (Egar)

Baca Lainnya

Smelter Harita Group di Pulau Obi Diduga Lakukan Genosida Emisi

12 Januari 2026 - 17:25 WIB

Smelter Harita Group Di Pulau Obi Diduga Lakukan Genosida Emisi

Matahukum : Data di Kemenhut Pintu Masuk Kejagung Gledah KPK Terkait Kasus Tambang

11 Januari 2026 - 10:13 WIB

Matahukum : Data Di Kemenhut Pintu Masuk Kejagung Gledah Kpk Terkait Kasus Tambang

PPBN RI–LVRI Perkuat Warisan Nilai Kejuangan 1945

10 Januari 2026 - 09:05 WIB

Ppbn Ri–Lvri Perkuat Warisan Nilai Kejuangan 1945
Trending di Nasional