Alasannya jelas. Pesantren jumlahnya bejibun – lebih dari 42 ribu, dengan santri hampir 11 juta jiwa. Bayangkan, angka sebesar itu kalau dipakai untuk pemilu bisa bikin partai baru dan langsung parliamentary threshold. Jadi, wajar kalau negara merasa perlu memberi “kursi” kelembagaan yang lebih besar.
Pesantren, Ibu Kandung Republik
Dalam uraiannya saat Dialog Media dengan tajuk Pesantren dan Kehadiran Negara di Antara Heritage Center yang digelar Biro Humas Kemenag, (25/9/2025), Romo Syafii bilang pesantren adalah “ibu kandung” Republik. Kalau benar, berarti selama ini negara agak kurang ajar: anaknya sudah gede, ibunya malah dititipkan ke tetangga bernama Direktorat Pendidikan. Terlalu…!
Dengan adanya Dirjen Pesantren, ibu kandung ini akhirnya bakal punya kamar sendiri. Tinggal nanti kita lihat. Apakah kamarnya dipenuhi kitab kuning atau melulu proposal anggaran? Tapi itu soal lain lah.
Antara Ideal dan Realitas
Romo mengimbuhlan, Kemenag juga katanya akan mengusung nilai MABRUR: Melayani, Amanah, Berintegritas, Responsif, Unggul, dan Ramah. Indah sekali jargonnya. Agak mirip brosur biro perjalanan umrah yang biasanya menambahkan bonus air zamzam 5 liter.
Pertanyaannya, apa mungkin birokrasi yang selama ini terkenal lamban bisa tiba-tiba Responsif? Atau anggaran yang sering bocor bisa tetap terjaga amanahnya? Kalau iya, mungkin keajaiban itu lebih besar maknanya dari haji yang mabrur.
Santri Dapat Makan Gratis, Pejabat Dapat Apa?
Romo Syafii juga bilang program afirmasi seperti makan gratis dan cek kesehatan gratis untuk santri harus diperluas dan konsisten. Bagus sekali, santri senang perutnya kenyang. Tapi publik tentu berharap jangan sampai ada “program afirmasi tambahan” untuk pejabat berupa honor rapat, tunjangan kinerja, atau fasilitas perjalanan dinas yang lebih sering ke luar negeri daripada ke pondok dan buka-buka kitab kuning.
Nah, sngkatnya, Dirjen Pesantren ini ide cemerlang. Setidaknya secara politik, 11 juta santri bisa merasa lebih diperhatikan. Tinggal kita tunggu, apakah nantinya Dirjen ini benar-benar melayani pesantren atau justru jadi pesantren baru: mengaji anggaran, hafalan proyek, dan istiqamah dalam perjalanan dinas. Wallahualam bishawab. (Kei)












