Menu

Mode Gelap
Disebut dalam Persidangan Kasus Blueray, MataHukum Minta Aldison Diperiksa Lindungi Generasi Muda dari Narkotika, Pemprov dan DPRD DKI Perkuat P4GN dengan Dukungan APBD dan BTT Tak Dilengkapi Plang Proyek, Pembangunan Rabat Beton di Wantisari Jadi Sorotan Bukan Pengusiran, Budiman Sudjatmiko Ungkap Fakta Di Forum Semarang Koalisi Cinta Jakarta Apresiasi Pembukaan 2.843 Lowongan Kerja BaraNusa Apresiasi Sikap Humanis Polda Metro Jaya dalam Mengawal Aksi Mahasiswa di Bundaran HI

Politik

Munaslub Golkar Memanas, Bursa Calon Ketua Umum Makin Riuh


					Oleh: Karyudi Sutajah Putra Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI) Perbesar

Oleh: Karyudi Sutajah Putra Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)

Teropongistana.com Jakarta – Desakan untuk menggelar Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar mulai mencuat. Peletupnya adalah kader senior Golkar asal Jawa Timur, Ridwan Hisjam, yang menilai Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia kurang fokus mengurus partai.

Menurut Ridwan, Bahlil lebih sibuk menjalankan tugas sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sehingga elektabilitas Golkar menurun, terutama di tingkat akar rumput. “Suara Beringin di desa-desa dan kampung-kampung menurun.

Kader di lapangan mendesak munaslub untuk mengganti Bahlil,” kata Ridwan, menyebut nama-nama seperti Agus Gumiwang Kartasasmita dan Bambang Soesatyo sebagai kandidat pengganti.

Bahlil sebelumnya membantah adanya desakan munaslub. Ia mengklaim partai justru sedang solid mendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Namun, Ridwan menilai bantahan itu hanya pernyataan normatif, mengingat hal serupa pernah diucapkan Airlangga Hartarto sebelum akhirnya digantikan Bahlil tahun lalu.

Golkar selama ini dikenal sebagai partai yang sukses melakukan kaderisasi, sehingga hampir semua kader berpeluang menjadi ketua umum. Berbeda dengan partai lain yang mengandalkan kepemimpinan karismatik atau warisan politik keluarga.

Munaslub sendiri bukan hal asing di Golkar. Bahkan, sejarah mencatat partai ini pernah mengalami dualisme kepemimpinan seperti pada era Aburizal Bakrie dan Agung Laksono. Kini, bola panas Munaslub tinggal menunggu sikap Dewan Pengurus Daerah (DPD) I dan DPD II, serta organisasi sayap partai.

Jika dukungan mengalir, desakan tersebut berpotensi menjadi “bola salju” yang sulit dibendung. Apalagi, beredar kabar bahwa Bahlil sudah tidak lagi mendapat dukungan penuh dari Istana karena dinilai lebih loyal kepada Presiden Joko Widodo daripada Presiden Prabowo Subianto.

Situasi internal Golkar pun kini diibaratkan “api dalam sekam” di permukaan tampak tenang, tetapi di dalamnya menyimpan bara yang sewaktu-waktu bisa meledak dan menjatuhkan sang ketua umum.

Baca Lainnya

Satu Komando Bersama Ahmad Fauzi, Acep Dimyati Kembali Nahkodai PKB Lebak

11 Juni 2026 - 15:16 WIB

Satu Komando Bersama Ahmad Fauzi, Acep Dimyati Kembali Nahkodai Pkb Lebak

Adde Rosi: Lebih dari Kuota, Perempuan Butuh Kesempatan Memimpin

10 Juni 2026 - 15:38 WIB

Adde Rosi: Lebih Dari Kuota, Perempuan Butuh Kesempatan Memimpin

E-Voting Berpotensi Efisien, Doli Ingatkan Jangan Terburu-buru

6 Juni 2026 - 00:02 WIB

E-Voting Berpotensi Efisien, Doli Ingatkan Jangan Terburu-Buru
Trending di Politik