Menu

Mode Gelap
Bank BJB dan Bank Banten Pererat Silaturahmi dan Kerja Sama Antar Bank Daerah Kapal Pertamina Dikuasai WNA: Matahukum Sebut Langgar Asa Cabotage dan Ancaman Kedaulatan Bupati Tangerang Tinjau Normalisasi Kali Cirarab, Fokus Tekan Risiko Banjir Arif Rahman: Saatnya Negara Hadir Lindungi Pekerja Rumah Tangga Lewat UU PPRT Top 3 Menteri Kabinet Prabowo: Sektor Ekonomi dan Infrastruktur Diapresiasi Sehari Menjelang Putusan Perkara Gugatan CMNP VS Hary Tanoe dan MNC KPK Siaga Bau Amis Puluhan Jutaan Dollar

Politik

Desakan FPPI: Prabowo Harus Lepas Intervensi Jokowi dan Makzulkan Gibran


					Foto Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (mengenakan pin Mugiwara One Piece) di lokasi Debat Antarcawapres Pilpres 2024 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Minggu (21/1/2024). Perbesar

Foto Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (mengenakan pin Mugiwara One Piece) di lokasi Debat Antarcawapres Pilpres 2024 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Minggu (21/1/2024).

Teropongistana.com Jakarta — Dewan Pimpinan Pusat Forum Purnawirawan Pejuang Indonesia (FPPI) Bidang Keamanan, Surahman, menilai kekacauan bangsa bermula sejak kepemimpinan Presiden ke-7 Joko Widodo. Ia menegaskan sikap FPPI mendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan mendesak pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang disebutnya “anak haram demokrasi”.

Menurut Surahman, Gibran masih terlalu muda dan belum sepadan untuk memimpin bangsa sebesar Indonesia. “Negara ini dipimpin anak muda bau kencur, banyak melamun, sementara persoalan bangsa sangat kompleks,” ujarnya saat memberikan keterangan kepada wartawan, Sabtu (6/9/2025).

FPPI juga meminta Polri dan DPR segera membentuk tim investigasi untuk menelusuri kasus akun media sosial Fufu Fafa yang belakangan ramai diperbincangkan.

Lebih lanjut, Surahman mendesak Presiden Prabowo agar segera melepaskan bayang-bayang Presiden Jokowi dengan cara mencopot menteri-menteri titipan. Ia menyoroti sejumlah nama, di antaranya:

Bahlil Lahadalia, terkait polemik gas 3 kilogram dan posisinya di Partai Golkar yang dianggap berperan dalam kenaikan tunjangan DPR.

Sri Mulyani, karena kebijakan pajak yang menimbulkan gejolak di berbagai daerah.

Tito Karnavian, dinilai gagal mengantisipasi konflik kebijakan daerah, seperti sengketa pulau Aceh–Sumut, kenaikan PBB di Pati, serta kebijakan sampah di Pandeglang.

Mutia Hafid (Menkominfo), karena maraknya situs judi online, konten dewasa, dan kekacauan arus informasi di media sosial.

Airlangga Hartarto, selaku Menko Perekonomian, dianggap bertanggung jawab atas sulitnya kondisi ekonomi rakyat akibat kenaikan pajak.

Kapolri Listyo Sigit Prabowo, dinilai bertanggung jawab atas kasus kematian pengemudi ojek online akibat tindakan bawahan.

“Selama virus-virus titipan Jokowi masih ada di kabinet, kekacauan akan terus terjadi. Mereka sengaja membuat kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat agar Presiden Prabowo disalahkan,” tegas Surahman.

Selain itu, FPPI juga mempertanyakan sikap pimpinan DPR RI yang hingga kini belum merespons surat yang diajukan para purnawirawan. “Sebagai wakil rakyat, DPR jangan hanya sibuk dengan gaji dan tunjangan. Kalau terus begini, rakyat bisa kehilangan kepercayaan,” pungkasnya.

Baca Lainnya

Arifki Chaniago: Pernyataan JK Bukan Cuma Sejarah, Ada Dimensi Politik Kekinian

20 April 2026 - 14:48 WIB

Arifki Chaniago: Pernyataan Jk Bukan Cuma Sejarah, Ada Dimensi Politik Kekinian

Perkuat Akar Rumput, BMI Demokrat Gelar Muscab dan Pelantikan Serentak se-Tegal Raya

17 April 2026 - 22:08 WIB

Perkuat Akar Rumput, Bmi Demokrat Gelar Muscab Dan Pelantikan Serentak Se-Tegal Raya

Pesan Projo: Jaga Optimisme, Kurangi Debat Kusir di Tengah Tekanan Global

8 April 2026 - 20:53 WIB

Pesan Projo: Jaga Optimisme, Kurangi Debat Kusir Di Tengah Tekanan Global
Trending di Nasional