Menu

Mode Gelap
Reorientasi Strategi Ekonomi di Selat Malaka Tagih Pajak Door to Door: Jangan Sampai Jadi Pemicu Konflik Baru CBA Desak Audit dan Pemeriksaan, Abdi Rakyat Tegaskan Tarif di Kemenaker Tak Sesuai Tujuan Pelayanan Publik Kapal Pertamina Diawaki Penuh WNA, Matahukum: Minta Komisi VI DPR Panggil Pimpinan dan Kejagung Usut Kesalahan Usai Dua Kekalahan, Arsenal Kembali ke Jalur Juara dengan Kemenangan Tipis atas Newcastle Terdampak Proyek Strategis, KITA Banten Minta Bupati Pandeglang Segera Pindahkan Sekolah dan DPRD Bersuara

Daerah

Program Dapur Sekolah : Keterlibatan Guru Ikut Mengawasi MBG, Bukan Sekedar Mencicipi


					Makanan Bergizi Gratis (MBG) tiap hari dari jajaranya, dan jumlah penerima makanan bergizi sampai pertengahan Agustus 2025 mencapai 20 juta orang lebih. Perbesar

Makanan Bergizi Gratis (MBG) tiap hari dari jajaranya, dan jumlah penerima makanan bergizi sampai pertengahan Agustus 2025 mencapai 20 juta orang lebih.

Teropongistana.com JAKARTA – Kasus keracunan massal masih terus terjadi sejak program Makanan Bergizi Gratis (MBG) diluncurkan awal tahun 2025 ini. Untuk menghindari keracunan massal pada siswa pemerintah meminta guru untuk mencicipi dulu makanan itu sebelum dibagikan ke siswa.

Kebijakan kontroversial ini dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sleman, Jogjakarta. Pemkab meminta guru untuk mencicipi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebelum dibagikan kepada siswa guna mencegah keracunan massal yang baru-baru ini terjadi di empat SMP.

Kebijakan ini memicu penolakan dari para guru yang merasa keberatan karena mengganggu proses belajar mengajar dan menempatkan guru sebagai “kelinci percobaan.

Chairman of Mubarok Institute, Fadhil As Mubarok merasa prihatin atas kebijakan yang tidak solutif tersebut.

“Kebijakan itu hanya memindahkan korban saja. Yang tadinya siswa yang jadi korban, sekarang guru yang jadi tumbal,” katanya kepada media Jumat (5/9/2025) di Jakarta.

Menurut Mubarok sudah terlampau banyak korban keracunan massal. Seharusnya pemerintah bisa mencari jalan terbaik. Jalan terbaiknya menurut Mubarok adalah Dapur Sekolah.

Meskipun tantangnya besar seperti masalah logistik, koordinasi, dan sumber daya manusia, ada beberapa potensi solusi yang bisa diambil kolaborasi publik-swasta, melibatkan sektor swasta dan komunitas lokal supaya dapat mempercepat proses pembangunan dan operasional.

Pemerintah bisa menyederhanakan regulasi dan birokrasi untuk mempercepat pengadaan dan distribusi. Penggunaan teknologi, memanfaatkan teknologi, seperti sistem digital untuk pemantauan dan pelacakan, dapat meningkatkan efisiensi dan transparasi.

Kasus Keracunan MBG

Sejumlah kasus keracunan massal pada siswa dan guru akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah terjadi di beberapa daerah seperti Bandung, Sragen, Tasikmalaya, dan Lombok Tengah, menyebabkan gejala seperti mual, diare, hingga pusing. Penyebabnya bervariasi, mulai dari indikasi bau tidak sedap, adanya bakteri Escherichia coli (E-coli), hingga dugaan makanan kedaluwarsa atau kontaminasi sanitas. Sebagai tindakan pencegahan, beberapa sekolah meminta guru untuk mencicipi MBG lebih dulu sebelum dibagikan ke siswa, dan pihak berwenang melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan untuk memastikan penyebab keracunan.

Berdasarkan data dari Institut for Development of Economic and Finance (INDEF) sebanyak : 4.000 siswa menjadi korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam delapan bulan terakhir.

Selain keracunan, menurut ekonom senior INDEF, Aviliani, menilai program MBG gagal memberdayakan usaha kecil, karena syaratnya terlalu berat, harus punya dapur sendiri dan tenaga pengolah, sehingga membuat UMKM sulit ikut terlibat.

Beberapa kasus keracunan MBG yang melibatkan guru: SMPN 35 Bandung (29 April 2025), sebanyak : 342 siswa dan dua guru mengalami keracunan massal setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis. Gejala yang muncul adalah diare dan mual.

Kecamatan Gemolong, Sragen (Agustus 2025), sebanyak : 251 siswa dan guru dari SDN 4 dan SMPN 3 Gemolong mengalami keracunan massal. Korban merasakan sakit perut, pusing, dan mual setelah mengonsumsi menu MBG.

Kecamatan Tasikmalaya (Mei 2025), sekitar 400 orang, termasuk siswa dan guru, mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG. Gejala yang dialami adalah diare.

Lombok Tengah (April 2025), sebanyak : 5 siswa dan beberapa guru di sana diduga keracunan karena kandungan bakteri E-coli dalam menu MBG, khususnya pada telur bumbu dan kacang goreng.

Lebong, Bengkulu (Agustus 2025), sebanyak 150 siswa dilarikan ke RSUD Kab.Lebong, setelah mengkonsumsi MBG.

Situbondo, Jawa Timur (September 2025),sebanyak 230 siswa di SMA 1 Panji Situbondo, keracunan setelah konsumsi MBG.

Program MBG Jalan Terus

Menyikapi temuan INDEF, sebanyak 4.000 siswa dilaporkan menjadi korban keracunan makan Bergizi Gratis, dalam delapan bulan terakhir ini. Menteri Pendidikan dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti menanggapinya, bahwa tetap mendukung keberlanjutan program MBG dan akan menyiapkan sekolah-sekolah sebagai penerima manfaat dari program tersebut.

“Bahwa ada berbagi peristiwa, sebagian anak-anak keracunan, mudah-mudahan bisa menjadi evaluasi.”jelas Abdul Mu’ti kepada awak media di Masjid Agung Jawa Tengah, Kab.Magelang, Jumat (5/09/2025).

Lebih lanjut Mendikdasmen juga mengatakan, bahwa MBG akan tetap berjalan dan disempurnakan secara bertahap.

Baca Lainnya

Terdampak Proyek Strategis, KITA Banten Minta Bupati Pandeglang Segera Pindahkan Sekolah dan DPRD Bersuara

27 April 2026 - 08:34 WIB

Terdampak Proyek Strategis, Kita Banten Minta Bupati Pandeglang Segera Pindahkan Sekolah Dan Dprd Bersuara

Keluarga Korban Penikaman Desak Polisi Tangkap Pelaku

26 April 2026 - 23:34 WIB

Keluarga Korban Penikaman Desak Polisi Tangkap Pelaku

Laksa Seba Baduy Diberikan ke Gubernur: Bukan Sekadar Hasil Bumi, Tapi Amanat yang Harus Dijaga Seumur Hidup

26 April 2026 - 21:52 WIB

Laksa Seba Baduy Diberikan Ke Gubernur: Bukan Sekadar Hasil Bumi, Tapi Amanat Yang Harus Dijaga Seumur Hidup
Trending di Daerah