Menu

Mode Gelap
DPRD Lebak Dinilai Mandul Awasi Proyek Alun-alun Matahukum : Data di Kemenhut Pintu Masuk Kejagung Gledah KPK Terkait Kasus Tambang Chaos! Alun-Alun Lebak Rp4,9 Miliar Amburadul, PUPR Diduga Cawe-Cawe Diduga Ada Backing, JAN Desak Satgas PKH Bongkar Tambang Ilegal Curugbitung–Maja 1.000 Genset ESDM–PLN Jadi Cahaya Warga Aceh Pascabencana PPBN RI–LVRI Perkuat Warisan Nilai Kejuangan 1945

Daerah

Polemik Gelar Pahlawan untuk Soeharto, Begini kata Farkhan Evendi


					Keterangan foto: Farkhan Evendi (Kanan) Ketua Umum DPN Bintang Muda Indonesia (Dok Istimewa-red). Perbesar

Keterangan foto: Farkhan Evendi (Kanan) Ketua Umum DPN Bintang Muda Indonesia (Dok Istimewa-red).

Teropongistana.com Jakarta – Ketua Umum DPN Bintang Muda Indonesia Farkhan Evendi merespons polemik penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 RI Soeharto.

Menurut aktivis yang biasa dipanggil Gus Farkhan itu pada hakikatnya kepahlawanan bukan sekedar menghargai jasa seseorang, siapapun dia. Ada hal yang jauh lebih besar dan penting dari hal tersebut.

Poin inilah, yang menurut Gus Farkhan belum dicermati dengan baik oleh negara, sehingga wajar jika kemudian publik mempertanyakan dan bahkan menolak keputusan negara menobatkan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional.

“Kepahlawanan adalah mekanisme moral kolektif, bagaimana cara suatu bangsa untuk mendidik anak-anaknya membedakan benar dari salah dalam sejarah. Memilih mana yang patut dihormati dan mana yang harus menjadi pelajaran,” tutur Gus Farkhan, Senin (10/11/2025)

Ditegaskan Gus Farkhan, memang bangsa ini harus menunjukkan kedewasaan dengan menghargai jasa-jasa para pemimpinnya. Sebab tak dipungkiri, ada kontribusi besar mereka bagi bangsa dan negara, dengan latar dan masa kepemimpinan yang berbeda.

Namun di sisi lain bangsa ini juga tidak boleh mengaburkan kesalahan atau kejahatan sejarah. Apalagi berlindung di balik kata sakral rekonsiliasi.

“Kepahlawanan bukan sekadar kemegahan personal. Di dalamnya terdapat makna yang jauh lebih utama yaitu sebagai kompas moral bagi kehidupan bersama dalam menuju masa depan,” ujar pemimpin organisasi sayap pemuda Partai Demokrat itu

“Alasan rekonsiliasi pun, menurut saya sebuah sikap inkonsistensi dari negara. Seharusnya negara juga berlaku fair dengan mengakui peran para tokoh-tokoh “kiri” Indonesia, dimana mereka juga turut berjuang melawan kolonialisme dan imperialisme,” imbuhnya.

Gus Farkhan berharap bangsa ini mempunyai keberanian untuk mengakui sejarahnya sendiri dan mengajarkan sikap konsisten, agar di kemudian hari bisa menjadi pelajaran moral yang akan diwariskan kepada generasi muda.

Baca Lainnya

DPRD Lebak Dinilai Mandul Awasi Proyek Alun-alun

11 Januari 2026 - 14:54 WIB

Dprd Lebak Dinilai Mandul Awasi Proyek Alun-Alun

Chaos! Alun-Alun Lebak Rp4,9 Miliar Amburadul, PUPR Diduga Cawe-Cawe

11 Januari 2026 - 09:32 WIB

Chaos! Alun-Alun Lebak Rp4,9 Miliar Amburadul, Pupr Diduga Cawe-Cawe

Diduga Ada Backing, JAN Desak Satgas PKH Bongkar Tambang Ilegal Curugbitung–Maja

10 Januari 2026 - 23:25 WIB

Diduga Ada Backing, Jan Desak Satgas Pkh Bongkar Tambang Ilegal Curugbitung–Maja
Trending di Daerah