Menu

Mode Gelap
Kajati Jabar: Jabatan Adalah Amanah, Bukan Sekadar Penghargaan Ketahanan Pangan Tak Hanya Produksi, Tapi Butuh Transformasi Digital Kapolda Cup II Resmi Bergulir, Perkuat Soliditas Personel Polri di Papua Barat Daya Melalui Nobar Piala Dunia 2026, Polda Banten Bangun Kedekatan dengan Warga Jelang HUT Bhayangkara ke-80, Polresta Sorong Kota Sambangi dan Santuni Purnawirawan Soal Pencemaran Gudang Pestisida BSD, JagaTani Ingatkan APH Jaga Integritas

Nasional

Jokowi Pakai Jaket PSI Dinilai Kode Politik Kuat, Berpotensi Geser Suara PDIP


					Keterangan foto : Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, Senin (20/4/2026) Perbesar

Keterangan foto : Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, Senin (20/4/2026)

Teropongistana.com Jakarta – Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago menilai wacana Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) bakal mengenakan jaket Partai Solidaritas Indonesia (PSI) merupakan kode politik yang sangat kuat dan berpotensi memengaruhi peta persaingan elektoral menjelang Pemilu 2029.

“Dalam politik, jaket bukan sekadar pakaian. Jaket adalah pernyataan sikap. Ketika Jokowi memakai jaket PSI, publik melihat itu sebagai pesan bahwa kapal politik Jokowi sedang merapat ke dermaga baru dan berpotensi menjadi ancaman serius bagi PDIP,” ujar Arifki.

Menurutnya, langkah Jokowi tersebut berpotensi memberikan keuntungan elektoral yang besar bagi PSI sekaligus menghadirkan tantangan serius bagi PDIP. Selama satu dekade terakhir, terdapat irisan yang sangat kuat antara pemilih PDIP dan loyalis personal Jokowi yang memilih partai karena faktor figur mantan presiden tersebut.

“Masalah terbesar PDIP hari ini bukan kehilangan Jokowi sebagai kader, melainkan potensi kehilangan pemilih yang selama ini memilih PDIP karena Jokowi. Ketika figur dan partai berjalan ke arah yang berbeda, sebagian pemilih biasanya akan mengikuti figur,” katanya.

Arifki menilai kelompok yang paling berpotensi mengalami pergeseran dukungan adalah pemilih yang ingin melihat situasi yang lebih segar dalam struktur partai. Ini cenderungnya pemilih muda atau generasi baru PDIP, yang lebih cair dalam menentukan pilihan politik. Pada kelompok ini, pengaruh personal Jokowi dinilai masih jauh lebih kuat dibandingkan identitas kepartaian.

“Jika Jokowi adalah magnet, maka PSI saat ini sedang berusaha menempatkan diri sebagai logam yang paling dekat dengan medan tarik tersebut. Di situlah potensi keuntungan elektoral PSI berada,” ujarnya.

Ia menambahkan, momentum tersebut sekaligus menjadi ujian besar bagi PDIP untuk membuktikan bahwa kekuatan partai tidak hanya bertumpu pada figur yang pernah dibesarkannya. Sebab, semakin kuat asosiasi Jokowi dengan PSI, semakin besar pula risiko terjadinya migrasi suara di segmen pemilih nasionalis yang selama ini menjadi basis utama PDIP.

“Satu jaket untuk Jokowi memang tidak menentukan hasil pemilu 2029. Karena PSI juga masih punya tantangan membangun struktur partai agar mapan seperti PDIP. Tetapi jika memang Jokowi bergabung dengan PSI, maka dinama kedua partai itu bakal makin panas menjelang Pemilu 2029,” pungkasnya.

Baca Lainnya

Kajati Jabar: Jabatan Adalah Amanah, Bukan Sekadar Penghargaan

17 Juni 2026 - 20:38 WIB

Kajati Jabar: Jabatan Adalah Amanah, Bukan Sekadar Penghargaan

Ketahanan Pangan Tak Hanya Produksi, Tapi Butuh Transformasi Digital

17 Juni 2026 - 19:49 WIB

Ketahanan Pangan Tak Hanya Produksi, Tapi Butuh Transformasi Digital

Bubarnya Forum Diskusi di Kampus, GMPK Soroti Kemunduran Budaya Berdemokrasi

17 Juni 2026 - 16:34 WIB

Bubarnya Forum Diskusi Di Kampus, Gmpk Soroti Kemunduran Budaya Berdemokrasi
Trending di Nasional