Menu

Mode Gelap
Berkah Ramadan Menuju Hati Masyarakat Takalar 3 WNI Hilang Usai Kapal Tenggelam, DPR Dorong Klarifikasi Penyebab Bekasi-Karawang-Purwakarta Pers Silaturahmi, Hedot Hadirkan Karikatur Perkuat Sinergi Bela Negara, PPBN Hadiri Bukber di Badan Cadangan Nasional Kemhan Beberapa SPPG Lebak Disuspend, Matahukum Dorong Penutupan Total yang Bermasalah Mubarok Institute Menyikapi Dinamika Politik dalam Perspektif Geostrategi dan Geopolitik Indonesia

Nasional

Di Negeri Para Doktor Palsu


					Keterangan Foto : Catatan Agus M Maksum, sebuah monolog. Perbesar

Keterangan Foto : Catatan Agus M Maksum, sebuah monolog.

Teropongistana.com Jakarta – Negeri ini, Nak, tak kekurangan orang pintar. Tapi kekurangan manusia jujur. Dan ketika sebuah negeri kehabisan kejujuran, maka ilmu pun dijual murah dipajang di etalase kekuasaan, dibungkus kehormatan palsu, ditukar dengan proyek dan jabatan.

Aku pernah percaya, Nak, bahwa gelar Doktor adalah lambang puncak ketekunan, kehormatan dari dunia pengetahuan. Bahwa seorang doktor adalah pejuang dalam sunyi, mengukir makna dalam ratusan halaman yang ditulis dengan darah pikiran dan keringat batin. Tapi hari ini, negeri ini menjelma panggung yang menggelikan di mana gelar bisa dibeli.

Doktor Honoris Causa tumbuh liar di tiap universitas, diberikan pada politisi, pejabat, bahkan selebriti. Dan para pejabat, politisi, artis, menjelma menjadi sarjana kilat doktor dalam semalam.

Bayangkan, Nak. Seorang menteri yang sibuk mengurusi proyek triliunan, juga rangkap jabatan ketua partai yang mengomandoi organisasi se-Indonesia Raya, bisa pula menulis disertasi setebal 500 halaman, meneliti, membaca, berdiskusi, menulis artikel ilmiah internasional dalam waktu dua tahun yang singkat, bahkan kurang. Sementara seorang guru besar yang sepi jabatan dan kekuasaan, menghabiskan lima tahun hanya untuk menyusun satu paragraf yang benar-benar bermakna.

Tapi di negeri ini, gelar datang bukan dari ilmu. Ia datang dari koneksi. Dari kekuasaan. Dari kampus-kampus yang kian lapar uang, yang menjilat kaki kekuasaan, membuka program S3 kilat by research, tanpa kuliah, tanpa metodologi, tanpa pertanyaan yang kritis, tanpa hati nurani akademik.

Lalu para rektor, dekan, dan dosen lentah bisu, entah takut, entah sudah ikut menikmati. Mereka berkata: “Sesuai prosedur.” Tapi prosedur siapa? Prosedur uang? Prosedur kekuasaan? Prosedur takut kehilangan jabatan?

Sementara mahasiswa-mahasiswa jujur, yang menulis siang dan malam, yang berdiskusi penuh peluh, yang berkali-kali ditolak karena paragrafnya belum kuat mereka hanya bisa menggigit bibir, melihat gelar mereka disejajarkan dengan para pemalsu ilmu itu.

Negeri ini, Nak, sedang menyulam kebohongan sebagai kebiasaan. Dan anak-anakmu kelak akan tumbuh dalam dunia yang percaya bahwa kecurangan adalah cara tercepat untuk menjadi besar. Bahwa lebih penting siapa orang tuamu, bukan siapa gurumu.

Doktor palsu akan berdiri di podium, menyebarkan ilusi. Profesor dagangan akan menulis buku moralitas. Sementara yang jujur, yang tulus mencintai ilmu, akan tersingkir perlahan.

Dan negeri ini akan terus merosot, bukan karena kurangnya lulusan bergelar, tapi karena berlimpahnya mereka yang menipu diri dan bangsanya dengan toga pinjaman.

Dan aku, Nak, hanya bisa menulis ini.
Menuliskannya dengan marah yang dalam.
Dengan kesedihan yang tak bisa lagi kutahan.

Sebab aku tahu ketika ilmu diperkosa di ruang-ruang akademik, maka negeri ini sedang berjalan menuju gelap yang tak bisa lagi diselamatkan.

Baca Lainnya

3 WNI Hilang Usai Kapal Tenggelam, DPR Dorong Klarifikasi Penyebab

12 Maret 2026 - 11:11 WIB

3 Wni Hilang Usai Kapal Tenggelam, Dpr Dorong Klarifikasi Penyebab

Perkuat Sinergi Bela Negara, PPBN Hadiri Bukber di Badan Cadangan Nasional Kemhan

12 Maret 2026 - 04:21 WIB

Perkuat Sinergi Bela Negara, Ppbn Hadiri Bukber Di Badan Cadangan Nasional Kemhan

Mubarok Institute Menyikapi Dinamika Politik dalam Perspektif Geostrategi dan Geopolitik Indonesia

11 Maret 2026 - 17:27 WIB

Mubarok Institute Menyikapi Dinamika Politik Dalam Perspektif Geostrategi Dan Geopolitik Indonesia
Trending di Nasional