Teropongistana.com Jakarta — Aksi demonstrasi mahasiswa dipandang sebagai wujud partisipasi publik yang sah untuk menyampaikan aspirasi dan kritik. Namun menurut Relawan Tim 8 Prabowo-Gibran, gelombang ketidakpuasan yang muncul belakangan ini lebih disebabkan oleh lemahnya pengelolaan informasi serta kinerja pejabat yang kurang cermat dalam menjalankan program yang telah disusun. Akibatnya, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan saat ini tercatat di bawah 60 persen, sebuah kondisi yang dinilai sangat memprihatinkan.
Pemerintah telah meluncurkan sejumlah program strategis nasional yang dinilai sangat baik, antara lain Program Makan Bergizi Gratis, Koperasi Merah Putih, Sekolah Rakyat, dan Program MAGENTA. Masing-masing program tersebut memiliki tujuan mulia: menyerap jutaan tenaga kerja, memenuhi kebutuhan ekonomi warga desa, memberikan akses pendidikan berkualitas bagi keluarga kurang mampu, hingga membekali mahasiswa dan lulusan baru dengan pengalaman kerja di Badan Usaha Milik Negara.
Namun, keunggulan di atas kertas itu berpotensi menjadi kontroversi jika tidak melibatkan partisipasi publik secara nyata. Tanpa pengawasan yang terbuka, pelaksanaan di lapangan justru berisiko menjadi ladang penyimpangan karena terkesan eksklusif dan tertutup.
Menyikapi hal ini, Koordinator Relawan Tim 8 Prabowo-Gibran, Abdul Havid Permana, mengingatkan bahwa jaringan relawan yang masih solid hingga kini belum dimanfaatkan secara maksimal di setiap daerah. Sebagai bagian dari gerakan masyarakat sipil, relawan memiliki keunggulan dapat diterima di berbagai lapisan masyarakat.
“Relawan siap menjadi mata, telinga, tangan, dan kaki Presiden untuk mengharmoniskan kondisi di lapangan. Kami meminta Kantor Staf Presiden berperan sebagai jembatan komunikasi agar sinergi terjalin kembali. Jangan saling menunggu, tapi harus ada inisiatif bersama agar program berjalan tertib dan tepat sasaran,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Koordinator Tim 8 Prabowo-Gibran, Isman Muslim, menambahkan bahwa jangkauan birokrasi dalam mengawasi program memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, peran relawan dapat menjadi lapis pengawalan tambahan yang efektif karena menyentuh langsung ke tingkat akar rumput.
“Kami siap berkontribusi memberikan laporan dan informasi nyata di lapangan. Namun kami juga sadar diri: jika kehadiran kami tidak lagi dibutuhkan, maka kami akan bersikap pasif dalam memberikan dukungan,” pungkas Isman.
Relawan menegaskan, dengan sinergi yang kuat antara pemerintah dan elemen masyarakat, optimisme terhadap keberhasilan program-program unggulan tetap bisa dijaga dan dikembalikan ke jalur yang benar.









