Teropongistana.com, Jakarta – Hari Santri 2026 dibuka di Pondok Pesantren Tebuireng, tempat resolusi jihad dahulu betkobar.
Semoga saja resolusinya tidak berbeda, yakni dari semangat jihad melawan penjajah, beralih menjadi semangat naik jabatan—setidaknya sampai ke Eselon I. Begitukah?
Menteri Agama Nasaruddin Umar dengan bangga mengumumkan rencana pembentukan unit Eselon I khusus pesantren. Katanya, agar urusan pesantren lebih serius, bukan sekadar dititipkan di Eselon II. Dengan kata lain, pesantren pun kini punya tiket resmi masuk dunia “high class birokrasi.”
Kalau dulu santri berperang dengan bambu runcing, sekarang santri akan diperjuangkan dengan surat keputusan. Mungkin begitu kira-kira tafsir bebas dari pidato Menag.
Dari Mandiri ke Terkoordinir
Menag mengingatkan bahwa pesantren sejak dulu dikenal mandiri. Namun, pemerintah merasa tidak tega membiarkan kemandirian itu begitu saja. Solusinya? Ya, ditemani birokrasi. Karena di negeri ini, apa sih yang tidak bisa diperbaiki dengan sebuah struktur baru? Begitu kan?
Santri mungkin akan tetap mandiri, tapi dengan SK, stempel, dan laporan kegiatan bulanan yang rapi.
Program Bergizi ala Birokrasi
Selain eselonisasi pesantren, Menag juga mengabarkan bahwa program Makan Bergizi Gratis dan Cek Kesehatan Gratis kini sudah menyentuh pesantren. Santri pun resmi menjadi target gizi negara, bukan hanya target dakwah kiai.
Dulu, santri makan tempe goreng dengan sambal terasi dianggap sederhana tapi barokah. Sekarang, menunya mungkin bergizi tapi wajib dilaporkan lewat aplikasi: nasi, lauk, plus lampiran tanda terima.
Resolusi Jihad Versi 2025
Tebuireng dipilih bukan tanpa alasan. Dari sinilah Resolusi Jihad 1945 dikumandangkan. Bedanya, resolusi kali ini bukan soal mempertahankan kemerdekaan, tapi mempertahankan posisi baik.
“Kalau pesantren kuat, bangsa ini kuat,” kata Menag. Tentu, asal kuat juga menghadapi audit anggaran dan laporan pertanggungjawaban.
Agenda Santri: Dari Kitab ke PowerPoint
Rangkaian Hari Santri 2025 dipenuhi acara mulai dari halaqah kebangsaan, MQKI internasional, hingga expo kemandirian pesantren. Semua keren, semuanya berlabel nasional-internasional.
Santri dulu mengaji kitab kuning sampai larut malam. Santri sekarang, selain mengaji, mungkin juga harus belajar presentasi PowerPoint supaya siap ikut expo kemandirian.
Hari Santri kini semakin megah, dengan doa, expo, hingga “branding internasional.” Dari Resolusi Jihad ke Resolusi Birokrasi, dari bambu runcing ke SK Eselon I.
Dan siapa tahu, di masa depan, santri bukan hanya hafal Alfiyah, tapi juga hafal struktur organisasi lengkap dengan eselonisasi. Karena di negeri ini, bahkan pesantren pun akhirnya belajar satu hal penting: tanpa birokrasi, barokah terasa kurang administrasi. (Kei)












