Teropongistana.com, Jakarta – Musibah ambruknya bangunan di Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, yang menelan korban jiwa, rupanya berhasil menyadarkan banyak pihak bahwa gedung pesantren ternyata butuh standar konstruksi, bukan sekadar doa dan gotong royong semen 3 sak.
Menteri Agama Nasaruddin Umar pun langsung turun tangan. Tak tanggung-tanggung, bantuan Rp610 juta digelontorkan. Angka yang membuat sebagian orang bergumam, “Andai saja standar bangunan ditegakkan dari awal, mungkin jumlah itu bisa jadi dana renovasi, bukan dana tanggap darurat.”
Dalam pidatonya, Menag menegaskan akan merumuskan aturan agar pembangunan pesantren tidak lagi sekadar hasil musyawarah tukang kampung plus restu kyai, tapi juga harus mengikuti aturan konstruksi yang berlaku. Sebab, selama ini, bangunan pesantren lebih sering berdiri atas nama iman, lalu roboh karena lupa pondasi.
“Kita akan segera berkoordinasi dengan para ahli bangunan,” kata Menag, sambil menyiratkan bahwa ternyata kementeriannya baru sadar kalau insinyur sipil memang punya pekerjaan.
Sementara itu, warga sekitar menyambut baik kehadiran rombongan pejabat yang datang bak kafilah bantuan. “Biasanya kami cuma dengar standar halal dan standar haji. Sekarang ada tambahan: standar bangunan. Alhamdulillah,” ujar salah satu wali santri.
Musibah ini setidaknya mengingatkan semua pihak: doa memang penting, tapi kayu keropos dan semen oplosan tidak bisa dilawan hanya dengan istighfar. (Kei)












