Menu

Mode Gelap
Audiensi Mandek, KOMPAS-R Ultimatum Kementerian PU Soal Proyek Rp9,6 Miliar Wabup Lebak Akui Belum Awasi SPPG Cikulur, MBG Dinilai Menyimpang dari Perpres PPBN RI Hadiri Peringatan HUT ke-69 LVRI Transisi Penyelenggaraan Haji Dinilai Terburu-buru, SAPUHI Soroti Kesiapan Sistem dan Regulasi Kejagung Geledah Kemenhut Terkait Dugaan Korupsi IUP Nikel Konawe Utara Pergunu Nilai KH Asep Saifuddin Chalim Figur Tepat Jaga Keulamaan NU

News

MQK Internasional 2025 Resmi Dibuka dengan Meriah


					MQK Internasional 2025 Resmi Dibuka dengan Meriah Perbesar

Teropongistana.com, Jakarta – Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Internasional 2025 resmi dibuka dengan segala kemeriahan.

Jadi dalam helatan ini ada kitab kuning, ada penanaman pohon, dan tentu saja ada konser artis nasional. Lengkap sudah: agama, alam, dan hiburan pop dalam satu paket ala Kementerian Agama.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa perang dan perubahan iklim adalah ancaman besar. “Kalau perang korban 67 ribu, perubahan iklim empat juta. Jadi kita harus segera bertindak,” ujarnya lantang.

Namun santri di barisan belakang sepertinya lebih sibuk bertanya: “Pak, tindakan pertama ini pohonnya disiram atau cukup difoto untuk Instagram?”

Menag memperkenalkan konsep ekoteologi, kerjasama manusia, alam, dan Tuhan. Sayangnya, belum ada konsep ekonomiologi, padahal harga makan di warung sekitar pesantren naik dua kali lipat sejak acara dimulai.

Acara MQK disebut sebagai diplomasi budaya dunia, meski sebagian peserta ASEAN hanya hadir sebagai “observer”—posisi yang sama dengan penonton bola yang nonton dari luar pagar stadion kali, ya.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno, bangga karena MQK tahun ini berbasis digital. Semua seleksi dan penilaian online. Tapi beberapa santri mengaku baru bisa upload berkas setelah naik ke tower masjid untuk mencari sinyal. Benarkah begitu?

Malam harinya, panggung MQK beralih fungsi: dari kitab kuning ke konser. Veve Zukfikar, Raim Laode, hingga Budi Doremi tampil. “Inilah wajah pesantren modern,” kata seorang pejabat Kemenag.  Tapi bukan bukan mustahil dikekinian, Santri  pagi membaca Al-Jauhar al-Maknûn malamnya bisa jingkrak-jingkrak sambil teriak “Komang”.

MQK kali ini juga ditutup dengan penanaman pohon di halaman pesantren. Panitia berharap pohon itu jadi simbol kebangkitan peradaban Islam. Para santri berharap lebih realistis, kelak pohon itu bisa jadi tempat gantung jemuran sarung.

Dengan semangat Golden Age Islam, Menag berharap MQK akan melahirkan ilmuwan muslim kelas dunia. Namun, hingga saat ini, capaian paling nyata adalah lahirnya santri-santri yang makin mahir membaca kitab kuning sambil live di TikTok. (Kei)

Baca Lainnya

Ketua DPRD Kota Serang Dorong Penerapan Manajemen Talenta ASN

5 Januari 2026 - 16:50 WIB

Ketua Dprd Kota Serang Dorong Penerapan Manajemen Talenta Asn

Berani Mengangkat Perbedaan, Ragu Menyelesaikannya

20 Desember 2025 - 11:51 WIB

Berani Mengangkat Perbedaan, Ragu Menyelesaikannya

Pamitan, Ditjen PHU Persembahkan Buku Memori Kolektif 75 Tahun Kemenag Kelola Haji

16 Desember 2025 - 21:51 WIB

Penyelenggaraan Haji 2025 Menjadi Tugas Terakhir Ditjen Penyelenggaraan Haji Dan Umrah (Phu) Kementerian Agama. Mulai Tahun Depan, Tanggung Jawab Mengurus Haji Diemban Oleh Kementerian Haji Dan Umrah.
Trending di News