Menu

Mode Gelap
Reynold Efendy Sambangi Workshop Gitar Custom Widjoyono di Kota Madiun Libatkan Ribuan Siswa dan Guru, BNN Bentuk Agen Anti Narkoba demi Indonesia Emas 2045 Hantavirus Merebak di Kapal Pesiar, Komisi IX DPR Desak Pemerintah Siaga dan Perkuat Skrining DPR Soroti Kasus MBG Berbelatung di Pekalongan, Irma Suryani Chaniago: Ini Kelalaian Petugas Soliditas Terjaga, NasDem Banten Perkuat Struktur Menuju Pemilu 2029 Kejati Sumsel Sukses Selamatkan Rp1,2 Triliun, Tambah 3 Tersangka Baru Kasus KUR Fiktif

Daerah

Ketua Pansus KTR DPRD DKI Jakarta Siap Jembatani Aspirasi Pro dan Kontra Kawasan Tanpa Rokok


					Foto-Red Perbesar

Foto-Red

Teropongistana.com Jakarta – Ketua Panitia Khusus (Pansus) Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) DPRD DKI Jakarta, Farah Safira, menyatakan komitmennya untuk menjembatani berbagai aspirasi terkait pembahasan Ranperda tersebut. Hal ini disampaikan usai menerima audiensi dari masyarakat pertembakauan bersama perwakilan pedagang kecil dan pemilik warung kelontong tradisional, Rabu (11/6).

Dalam pertemuan tersebut, Farah yang juga merupakan anggota Fraksi Partai Golkar DPRD DKI Jakarta mengatakan pihaknya menargetkan pembahasan Ranperda KTR rampung pada Agustus 2025. Namun ia menegaskan pentingnya memperhatikan masukan dari berbagai pihak, baik yang mendukung maupun yang menolak regulasi tersebut.

“Kita mendapatkan amanah untuk menyelesaikan Ranperda KTR yang pembahasannya sudah cukup lama. Kami ingin berusaha menjembatani kedua aspirasi. Kita tahu Jakarta ingin menjadi kota yang lebih sehat, namun di sisi lain kita juga harus mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat, termasuk mereka yang bergantung pada penjualan rokok,” ujar Farah.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI), I Ketut Budhyman, menyatakan pihaknya mendukung adanya aturan yang mengatur perilaku merokok. Namun ia menolak jika aturan tersebut mengarah pada pelarangan total ekosistem pertembakauan.

“Jika pelarangan total tetap menjadi usulan Pemprov DKI Jakarta, maka kami sampaikan bahwa kami menolak Ranperda KTR ini,” tegas Budhyman.

Budhyman menyoroti sejumlah pasal dalam Ranperda yang dinilai berpotensi menimbulkan dampak sosial dan ekonomi, khususnya bagi pedagang tradisional, warung kelontong, pelaku usaha di sektor perhotelan, restoran, kafe, serta industri kreatif. Ia juga mengingatkan adanya ancaman peningkatan peredaran rokok ilegal jika pelarangan total diterapkan.

Beberapa poin larangan dalam Ranperda KTR antara lain pelarangan penjualan rokok dalam radius 200 meter dari satuan pendidikan dan tempat bermain anak, larangan merokok di tempat hiburan, larangan memajang produk rokok, serta larangan iklan, promosi, dan sponsorship rokok seperti tercantum dalam Pasal 17 Ranperda tersebut.

“Apalagi di tengah perlambatan ekonomi saat ini, jangan sampai pasal-pasal dalam Ranperda KTR justru bertolak belakang dengan visi Jakarta sebagai kota global dan pusat perekonomian,” pungkas Budhyman.

Pansus KTR DPRD DKI Jakarta berkomitmen akan terus membuka ruang dialog agar regulasi yang dihasilkan dapat diterima oleh semua pihak dengan mempertimbangkan aspek kesehatan, sosial, dan ekonomi masyarakat.

Baca Lainnya

Kejari HST Geledah 4 Lokasi, Buru Bukti Korupsi Alkes Dinkes

7 Mei 2026 - 05:43 WIB

Kejari Hst Geledah 4 Lokasi, Buru Bukti Korupsi Alkes Dinkes

Hilang Ditelan Bumi, Tiga Tersangka ASN Sorong Pasca Bebas dari Tahanan

6 Mei 2026 - 10:40 WIB

Hilang Ditelan Bumi, Tiga Tersangka Asn Sorong Pasca Bebas Dari Tahanan

GAMMA Bongkar Setoran dan Kartel Proyek di Bina Marga Banten

6 Mei 2026 - 01:29 WIB

Gamma Bongkar Setoran Dan Kartel Proyek Di Bina Marga Banten
Trending di Daerah