Teropongistana.com Jakarta – Pakar Politik Amerika, Jerry Massie, menilai tindakan Donald Trump dan timnya membuang barang-barang pemberian dari China merupakan langkah tepat demi menjaga keamanan nasional Amerika Serikat.
Menurut Jerry, barang-barang pemberian dari China berpotensi disusupi perangkat mata-mata atau alat penyadapan.
“Saya yakin bisa saja ada tools atau alat mata-mata atau spionase yang dipasang di barang-barang tersebut. Chip maupun kamera sangat mungkin disisipkan di sana,” ujar Jerry kepada media, Minggu (17/5/2026).
Peraih gelar doktor dari American Global University (AGU) itu menjelaskan, sistem keamanan pemerintahan di era Joe Biden dan Donald Trump memiliki perbedaan signifikan.
Menurut dia, pemerintahan Biden dinilai lebih longgar terhadap China, sedangkan Trump dikenal lebih tegas dan berseberangan dengan kekuatan Negeri Tirai Bambu tersebut.
Jerry kemudian mencontohkan sejumlah kasus dugaan spionase China di Amerika Serikat. Salah satunya terkait seorang perempuan yang diduga agen mata-mata China dan memiliki hubungan dengan anggota parlemen Partai Demokrat dari California, Eric Swalwell.
Kasus tersebut sempat menjadi sorotan karena dikhawatirkan menyebabkan kebocoran data penting pemerintahan Amerika Serikat.
Selain itu, Jerry juga menyinggung kasus Eleen Wang, mantan Wali Kota Arcadia, yang disebut terlibat dalam aktivitas sebagai agen ilegal pemerintah China.
Menurutnya, praktik spionase China di Amerika Serikat mencakup berbagai operasi, mulai dari pencurian teknologi industri, intrusi siber, kampanye pengaruh politik, hingga pengoperasian “kantor polisi rahasia” ilegal.
“FBI menganggap upaya spionase ini sebagai ancaman jangka panjang terhadap keamanan nasional dan ekonomi Amerika Serikat,” kata Jerry.
Ia menambahkan, penyelidik federal juga menemukan sejumlah kasus dugaan infiltrasi politik lokal Amerika Serikat melalui anggota parlemen maupun pejabat publik lainnya.
Jerry menyebut, mantan Wali Kota Arcadia tersebut bahkan mengaku bersalah karena bertindak sebagai agen asing ilegal setelah menjalankan media pro-Tiongkok dan menyebarkan propaganda Beijing.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa target utama spionase China adalah kekayaan intelektual Amerika Serikat, termasuk teknologi ruang angkasa dan penelitian strategis.
Beberapa kasus besar, lanjutnya, melibatkan pencurian rahasia teknologi terkait mesin turbin dan komponen sensitif penerbangan.
Tak hanya itu, Jerry juga menyoroti ancaman perang siber yang dilakukan peretas yang diduga terkait dengan negara.
“Peretas-peretas tersebut kerap mencoba menembus infrastruktur penting dan jaringan pemerintahan Amerika Serikat,” ujarnya.
Ia juga menyinggung kekhawatiran Amerika Serikat terhadap penggunaan ribuan akun proxy untuk aktivitas spionase berbasis kecerdasan buatan (AI).
Selain itu, Departemen Kehakiman Amerika Serikat disebut pernah mengadili sejumlah individu yang mengoperasikan “kantor polisi” ilegal China di beberapa wilayah, termasuk New York. Kantor tersebut diduga digunakan untuk memantau dan menekan para pembangkang China di luar negeri.
Menurut Jerry, kekhawatiran Amerika Serikat terhadap China juga terjadi di Australia. Negeri Kanguru itu pernah melarang Huawei terlibat dalam proyek infrastruktur penting karena dianggap berpotensi mengancam keamanan nasional.
Huawei sendiri telah membantah seluruh tuduhan tersebut.
Jerry juga mencontohkan kasus pada awal 2019 ketika seorang direktur penjualan Huawei di Polandia ditangkap otoritas setempat atas dugaan spionase.
Namun, Huawei langsung memecat karyawan tersebut dan menegaskan bahwa tindakan itu merupakan urusan pribadi, bukan kebijakan perusahaan.
Ia menambahkan, Amerika Serikat juga terus memperketat akses warga dan mahasiswa China ke negaranya demi alasan keamanan nasional.
Karena itu, Jerry menyarankan agar para pejabat di Indonesia belajar dari langkah pemerintah Amerika Serikat dan tidak sembarangan menerima bingkisan atau hadiah dari China.









