Menu

Mode Gelap
Audiensi Mandek, KOMPAS-R Ultimatum Kementerian PU Soal Proyek Rp9,6 Miliar Wabup Lebak Akui Belum Awasi SPPG Cikulur, MBG Dinilai Menyimpang dari Perpres PPBN RI Hadiri Peringatan HUT ke-69 LVRI Transisi Penyelenggaraan Haji Dinilai Terburu-buru, SAPUHI Soroti Kesiapan Sistem dan Regulasi Kejagung Geledah Kemenhut Terkait Dugaan Korupsi IUP Nikel Konawe Utara Pergunu Nilai KH Asep Saifuddin Chalim Figur Tepat Jaga Keulamaan NU

Politik

Dinamika Internal Golkar Memanas: Bahlil Lahadalia Terancam Lengser, Beberapa Nama Baru Muncul di Bursa Ketum


					Foto Kantor DPP Partai Golkar Selipi Jakarta Barat. Perbesar

Foto Kantor DPP Partai Golkar Selipi Jakarta Barat.

Teropongistana.com Jakarta — Suhu politik di internal Partai Golkar kembali memanas. Isu pergeseran kepemimpinan di tubuh partai berlambang pohon beringin itu mulai menguat. Bahlil Lahadalia, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum, dikabarkan bakal dilengserkan melalui Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) yang direncanakan digelar pada akhir tahun 2025 sebelum reshuffle kabinet yang juga santer dibicarakan.

Informasi yang beredar menyebutkan bahwa telah ada sinyal dari Istana mengenai restu pergantian pucuk pimpinan Golkar. Beberapa faksi internal partai disebut sudah bersiap menyambut pergantian tersebut.

Nama Nusron Wahid, Menteri Agraria dan Tata Ruang, mencuat sebagai kandidat terkuat pengganti Bahlil. Nusron dianggap sebagai figur yang memiliki kedekatan dengan Presiden Prabowo Subianto dan mampu menjembatani berbagai kepentingan di internal Golkar.

Tak hanya Nusron, Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital yang juga dikenal sebagai kader muda potensial Golkar, disebut-sebut turut masuk dalam bursa calon ketua umum. Meutya dikenal memiliki rekam jejak baik serta loyalitas tinggi terhadap partai, (3/8).

Nama lain yang mulai ramai dibicarakan di lingkaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar adalah Maman Abdurrahman, Menteri UMKM. Meski pergerakannya terkesan senyap, pengaruh Maman di kalangan akar rumput dan elite muda partai dinilai cukup signifikan.

Berdasarkan informasi dari sumber internal yang enggan disebutkan namanya, situasi di dalam Golkar kini digambarkan seperti perang dingin. Antar-faksi saling serang, namun pergerakan dilakukan dalam senyap. Intrik politik dan manuver internal semakin intens, seiring menguatnya dorongan untuk melakukan perubahan kepemimpinan.

Situasi ini mencerminkan ketegangan yang belum sepenuhnya mencuat ke permukaan, namun nyata terasa di ruang-ruang strategis partai.

Langkah untuk melengserkan Bahlil disebut-sebut tidak terlepas dari dinamika politik nasional, terutama hubungannya dengan Presiden Prabowo Subianto. Bahlil yang dikenal sebagai loyalis Presiden Joko Widodo dianggap mulai tidak sejalan dengan arah pemerintahan saat ini.

Sejumlah pengusaha yang selama ini menjadi pendukung kuat Bahlil pun dikabarkan mulai menarik diri secara perlahan. Mereka disebut memilih untuk menjaga jarak dan mengamankan posisi di tengah ketidakpastian politik.

Meski belum ada pernyataan resmi dari DPP Partai Golkar maupun dari Bahlil sendiri, eskalasi dinamika internal ini menunjukkan bahwa pergolakan di tubuh partai terus bergerak. Menjelang akhir tahun, publik tampaknya akan menyaksikan babak baru dalam perebutan kekuasaan di salah satu partai politik tertua dan paling berpengaruh di Indonesia.

Baca Lainnya

Pakar Politik Sebut Pilkada Tak Langsung Perlemah Demokrasi

25 Desember 2025 - 19:03 WIB

Pakar Politik Sebut Pilkada Tak Langsung Perlemah Demokrasi

Camelia Petir Tekankan Kekompakan di Puncak HUT ke-1 dan Seminar Nasional

14 Desember 2025 - 12:55 WIB

Camelia Petir Tekankan Kekompakan Di Puncak Hut Ke-1 Dan Seminar Nasional

Pengamat Ungkap Sinyal Parpol Lain Agar Nyalakan Lampu Sen

10 Desember 2025 - 09:06 WIB

Dugaan Musda Golkar Dpd Hanya Seremonial, Keputusan Ada Di Ujung Telunjuk Bahlil?
Trending di Politik